Inspiratif! Mahasiswa UGM Pakai Beasiswa Rp500.000 Rintis Peternakan Ayam hingga Punya Puluhan Indukan
KLATEN, iNews.id - Berawal dari tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, Anjeli Astriani berhasil merintis usaha peternakan ayam bernama Bejo Farm di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2023 ini memanfaatkan ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah untuk mengembangkan usaha secara mandiri.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa UGM, Anjeli tidak sekadar menyimpan uang beasiswa. Dia memilih menggunakannya sebagai modal awal untuk membangun peternakan yang kini membudidayakan beberapa jenis ayam, mulai dari ayam petelur hingga ayam kampung.
Salah satu upaya yang dikembangkan Anjeli adalah persilangan atau crossbreeding ayam Elba dan Mardi. Dia melihat kedua jenis ayam tersebut memiliki karakteristik berbeda yang berpotensi saling melengkapi.
Ayam Elba dikenal produktif menghasilkan telur, dengan kemampuan bertelur sekitar 280–300 butir per tahun. Namun, ukuran tubuhnya relatif kecil. Sementara itu, ayam Mardi memiliki postur lebih besar, tetapi produktivitas telurnya tergolong standar.
“Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Kamis (22/10/2026).
Melalui persilangan tersebut, Anjeli berharap memperoleh keturunan ayam dengan pertumbuhan tubuh yang baik. Ayam jantan berpotensi dimanfaatkan sebagai ayam potong, sedangkan ayam betina diharapkan tetap memiliki kemampuan menghasilkan telur.
Selain ayam hasil persilangan Elba dan Mardi, Bejo Farm juga membudidayakan ayam KUB dan Kuntara 4. Usaha ini memproduksi sekitar 15-20 butir telur setiap hari, dengan dukungan puluhan indukan aktif serta anakan hasil penetasan sendiri.
Untuk menjaga biaya produksi tetap terkendali, Anjeli juga memutar otak saat harga pakan pabrikan meningkat. Dia memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitarnya sebagai campuran pakan ternak.
“Karena harga pakan pabrikan sedang mahal, Saya meracik pakan dari bekatul, sisa makanan hajatan yang masih layak untuk ternak, dan buah musiman seperti mangga dan jambu air yang dipotong-potong. Pakannya diberikan dua kali sehari, pada pagi dan sore hari,” katanya.
Anjeli juga menerapkan perawatan menggunakan bahan alami, di antaranya bawang putih dan daun pepaya. Bahan tersebut digunakannya sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi ternak dan membantu menekan biaya pemeliharaan.
Menurutnya, bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas.
"Untuk dosisnya, saya berikan ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Daun pepaya segar juga saya gunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan,” katanya.
Dalam memasarkan produknya, Anjeli melayani pembelian langsung di peternakan maupun pemesanan secara daring melalui WhatsApp dan Facebook. Produk Bejo Farm mencakup telur harian, bibit ayam berumur sehari atau Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup.
Dari penjualan tersebut, Anjeli mengaku sudah mampu menutup biaya operasional dan kebutuhan pakan harian. Adapun keuntungan bersih diperoleh dari sisa hasil penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup.
Meski mulai berkembang, perjalanan Bejo Farm bukan tanpa hambatan. Anjeli pernah mengalami kerugian ketika sejumlah anakan ayam mati akibat perubahan cuaca ekstrem di Klaten. Pengalaman itu mendorongnya mengevaluasi sanitasi kandang dan cara merawat ternak agar kejadian serupa dapat diminimalkan.
Bagi Anjeli, keputusan menggunakan tabungan beasiswa untuk membangun usaha merupakan pilihan yang lebih bermanfaat daripada menghabiskannya untuk mengikuti tren sesaat.
“Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri,” ungkap Anjeli.
Dia juga menilai perkembangan Bejo Farm tidak terlepas dari kedisiplinan mengatur keuangan serta penerapan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah di Fakultas Peternakan UGM.
“Pencapaian Bejo Farm ini tidak terlepas dari disiplin dalam mengelola keuangan dan penerapan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Fapet UGM,” katanya.
Kisah inspiratif Anjeli menunjukkan bahwa keterbatasan modal bukan selalu menjadi penghalang untuk memulai usaha. Dengan memanfaatkan tabungan, pengetahuan akademik, dan keberanian mencoba, dia membangun Bejo Farm sebagai wadah penerapan ilmu peternakan sekaligus langkah awal menuju kemandirian ekonomi.









