14 Dokter Tangani Pemisahan Bayi Kembar Siam Dempet Perut di RSCM, Operasi Berjalan Dramatis
JAKARTA, iNews.id – Sebanyak 14 dokter dari berbagai spesialisasi terlibat dalam operasi pemisahan bayi kembar siam NA 1 dan NA 2 di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Rangkaian tindakan pada 15–16 September 2026 tersebut berlangsung dramatis.
Operasi ini bukan sekadar memisahkan dua tubuh yang menyatu. Tim medis harus menangani sejumlah struktur organ yang masih terhubung, sekaligus memperhitungkan fungsi tubuh masing-masing bayi setelah pemisahan.
NA 1 dan NA 2 mengalami kembar siam tipe abdomino-ischiopagus, yakni kondisi ketika tubuh menyatu dari bagian perut hingga panggul. Sejumlah organ mereka, seperti jantung, paru, lambung, usus halus, ginjal, dan kandung kemih, telah terpisah.
Namun, sebagian hati, vena porta, dan usus besar masih menyatu. Kedua bayi juga berbagi satu lubang anus, sedangkan tulang panggul terhubung dan susunan saluran kemih serta organ genitalia cukup kompleks.
Kondisi tersebut mengharuskan tim dokter melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menyusun strategi pembedahan. Sekitar 14 dokter yang terlibat berasal dari berbagai bidang, meliputi bedah anak, bedah plastik, ortopedi, urologi, anestesiologi, dan gastrohepatologi.
Ketua tim operasi pemisahan kembar siam RSCM, Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti, Sp.A., Subsp. Neuro, menjelaskan bahwa persiapan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi anatomi kedua pasien.
"Persiapan diperlukan untuk menyusun strategi pembedahan sesuai kondisi anatomi masing-masing anak," jelas dr. Setyo dalam keterangan resminya, Rabu (21/10/2026).
Prosedur terhadap NA 1 memerlukan waktu sekitar 29 jam, sedangkan tindakan terhadap NA 2 berlangsung selama 23 jam 55 menit. Rangkaian penanganan tersebut berlangsung sekitar 36 jam.
Salah satu tantangan yang harus diperhitungkan adalah pemberian anestesi selama tubuh kedua bayi masih terhubung. Tim harus menjaga kondisi fisiologis masing-masing pasien, termasuk memperhitungkan kemungkinan pengaruh obat yang diberikan selama prosedur.
Dokter spesialis anestesi anak RSCM, dr. Andi Ade Wijaya Ramlan, Sp.An-TI, Subsp. An. Ped.(K), menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat penanganan anestesi membutuhkan perhatian khusus.
"Sebelum pemisahan selesai, obat yang diberikan kepada satu bayi berpotensi memengaruhi saudaranya karena keduanya masih terhubung," tutur dr. Andi.
Setelah operasi, kedua bayi menjalani perawatan di ruang *Pediatric Intensive Care Unit* (PICU). Tim medis memantau kondisi klinis, penyembuhan luka, asupan nutrisi, dan kemungkinan komplikasi setelah tindakan besar tersebut.
Pada 19 Oktober 2026, kondisi NA 1 dan NA 2 dilaporkan stabil, tidak mengalami demam, serta mulai menerima cairan melalui mulut. Keduanya kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap biasa.
Meski operasi pemisahan telah selesai, penanganan belum berakhir. Perbedaan anatomi membuat kebutuhan perawatan keduanya tidak sama. Tim medis masih perlu memantau fungsi pencernaan, saluran kemih, organ genitalia, serta kondisi tulang dan otot panggul.
Dokter spesialis bedah plastik RSCM, dr. Indri Aulia, mengatakan rekonstruksi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi tubuh dan kebutuhan jangka panjang kedua anak.
"Tahapannya dapat berlangsung seiring pertumbuhan kedua anak dan disesuaikan dengan evaluasi medis," ungkapnya.
Keberhasilan operasi ini menjadi tahap penting dalam penanganan NA 1 dan NA 2. Keduanya kini telah memiliki tubuh masing-masing, tetapi masih membutuhkan rehabilitasi medik, pemantauan tumbuh kembang, serta evaluasi untuk menentukan tindakan lanjutan yang diperlukan.










