Berburu Kuliner Halal di Hong Kong, dari Roti Nanas hingga Egg Tart
Menjelajahi Hong Kong tak harus berakhir di pusat perbelanjaan atau gedung pencakar langit. Wisatawan Muslim Indonesia juga bisa berburu kuliner, menikmati budaya lokal, dan menemukan destinasi bersejarah. Pilihannya mencakup roti nanas khas Hong Kong, egg tart, hingga hotpot halal. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari kampanye Intertwined yang digagas Hong Kong Tourism Board (HKTB). Kampanye ini kembali menggandeng brand modest fashion Indonesia, Nada Puspita, setelah kolaborasi pertama pada 2024.
Salah satu tempat yang bisa dikunjungi adalah Chrisly Café di Tsim Sha Tsui. Kedai bergaya cha chaan teng ini menawarkan pengalaman kuliner tradisional Hong Kong. Pengunjung dapat mencicipi bolo bun, roti khas Hong Kong yang dikenal sebagai roti nanas. Ada pula egg tart, kudapan berbentuk tart dengan isian telur yang populer. Namun, wisatawan perlu mengetahui bahwa sertifikasi halal Chrisly Café hanya mencakup bagian toko rotinya.
Pilihan berikutnya adalah Little Sheep Village Hot Pot, restoran prasmanan hotpot bersertifikasi halal. Konsepnya menggunakan panci individual dan ban berjalan untuk menyajikan aneka bahan makanan. Pengunjung bisa memilih kuah kaldu serta menikmati pilihan daging halal dan hidangan pendamping. Restoran ini memiliki cabang di Yau Ma Tei dan Wan Chai. Pilihan tersebut memberi wisatawan Muslim alternatif bersantap bersama keluarga maupun teman.
Baca Juga : Merencanakan Liburan Lebih Fleksibel Lewat Cicilan 0
Untuk menemani waktu istirahat, Marouf Coffee menawarkan pengalaman menikmati kopi spesialti. Sementara itu, Cookies Quartet menyediakan kukis buatan tangan yang bisa dipertimbangkan sebagai oleh-oleh. Meski demikian, wisatawan sebaiknya memeriksa status sertifikasi halal setiap produk sebelum membeli. Informasi mengenai rekomendasi kuliner ramah Muslim lainnya tersedia melalui panduan wisata resmi HKTB. Masjid Tertua hingga Kampung Seni
Selain kuliner, Hong Kong menyimpan destinasi menarik bagi pencinta sejarah dan seni. Jamia Mosque di Central merupakan masjid tertua di Hong Kong, dengan kapasitas hingga 400 jemaah. Masjid ini pertama kali didirikan pada 1840-an dan dibangun kembali pada 1915–1916. Bangunannya memiliki eksterior hijau, lengkungan dekoratif, serta elemen arsitektur Islam. Keberadaannya juga menjadi bagian penting kehidupan komunitas Muslim setempat.
Wisatawan juga dapat mengunjungi Blue House, bangunan bersejarah empat lantai di kawasan Wan Chai. Bangunan yang berasal dari era 1920-an tersebut mempertahankan karakter arsitektur tradisional Hong Kong. Beralih ke Sai Ying Pun, Art Lane menghadirkan 26 mural karya 17 seniman lokal dan internasional. Sementara itu, Central–Mid-Levels Escalator membentang sepanjang 800 meter. Jalur eskalator tersebut menghubungkan berbagai kawasan dan menjadi bagian kehidupan sehari-hari warga.
Pilihan lainnya adalah Harbour Station, yang memanfaatkan dua gerbong kereta MTR era 1980-an. Satu gerbong mempertahankan fitur aslinya, sedangkan gerbong lain digunakan untuk kegiatan komunitas. Di Ma Wan 1868, pengunjung bisa menemukan bangunan warna-warni, mural, studio kreatif, dan situs bersejarah. Destinasi ini dibuka untuk umum pada Maret 2025. Perpaduan tersebut memperlihatkan sisi Hong Kong di luar kawasan pusat kota.
Koleksi Nada Puspita dan Wisata Ramah Muslim Pengalaman menjelajahi berbagai kawasan tersebut turut mewarnai kampanye Intertwined. Founder & Creative Director Nada Puspita, Indah Nada Puspita, mengaku menemukan tempat-tempat baru selama perjalanan. “Perjalanan kali ini membawa saya ke tempat-tempat yang belum pernah saya eksplorasi sebelumnya,” ujarnya. Bersama Zyta Delia Rahma, Indah memperkenalkan koleksi pakaian dan scarf dengan desain garis saling bertaut. Koleksi tersebut menerjemahkan gagasan tentang kenangan dan pengalaman yang terhubung.
Kampanye ini hadir ketika Hong Kong memperkuat posisinya sebagai destinasi ramah Muslim. Pada Halal in Travel Awards 2026, Hong Kong menempati peringkat kedua kategori Muslim-friendly Destination of the Year untuk destinasi non-OIC. Hong Kong juga mempertahankan peringkat pertama kategori Muslim-friendly Accessible Travel Destination non-OIC. Berdasarkan data dalam materi kampanye, kota ini memiliki hampir 290 fasilitas dan usaha ramah Muslim. Jumlah tersebut mencakup 222 restoran bersertifikasi halal dan milik Muslim serta 61 hotel berperingkat CrescentRating.
Regional Director of Southeast Asia Hong Kong Tourism Board, Liew Chian Jia, menegaskan pentingnya pasar Indonesia. Menurutnya, kolaborasi ini memperkenalkan pengalaman budaya, kuliner, dan fasilitas ramah Muslim kepada wisatawan Indonesia. HKTB juga memperkuat edukasi wisata melalui kampanye Jelajah Hong Kong dan panduan wisata Muslim berbahasa Indonesia. Bagi wisatawan, perpaduan kuliner, sejarah, seni, dan fasilitas ibadah memberi lebih banyak pilihan perjalanan. Hong Kong pun menawarkan pengalaman yang dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan setiap pengunjung.









