Kisah Pilu Relawan Karhutla Kalimantan, Patungan Rp10 Ribu hingga Padamkan Api Tanpa APD Lengkap

Kisah Pilu Relawan Karhutla Kalimantan, Patungan Rp10 Ribu hingga Padamkan Api Tanpa APD Lengkap

Terkini | inews | Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:13
share

JAKARTA, iNews.id - Di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengancam permukiman, warga di Kalimantan memilih turun tangan membantu memadamkan api. Namun, perjuangan mereka menyimpan kisah pilu. 

Ya, demi mengoperasikan mesin pompa air, para relawan mandiri harus patungan uang pribadi mulai Rp10.000 untuk membeli bensin. Kisah ini diceritakan Zaskia Adya Mecca setelah mendatangi langsung salah satu titik kebakaran di Kalimantan. 
Zaskia mengaku terharu mendengar perjuangan warga yang setiap hari berusaha memadamkan api, meski harus menghadapi keterbatasan biaya hingga perlengkapan keselamatan.

Momen itu dibagikan Zaskia melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Dalam rekaman tersebut, dia memperlihatkan kondisi di lokasi kebakaran yang berada tidak jauh dari bandara tempatnya tiba.

"Oke guys, aku baru sampai di satu titik. Ini baru dari airport sebenarnya dekat banget, cuman dengar ceritanya… Huh, nggak kuat banget," ujar Zaskia, dikutip Selasa (20/10/2026).

Menurut cerita yang diterimanya, warga setempat secara sukarela menjadi relawan untuk membantu memadamkan karhutla. Mereka melakukan upaya pemadaman setiap hari karena kebakaran telah menjalar hingga mendekati kawasan permukiman.

Di tengah situasi tersebut, para relawan harus memikirkan kebutuhan operasional secara mandiri. Salah satunya bahan bakar untuk menghidupkan mesin pompa air yang digunakan membantu memadamkan api.

Zaskia mengungkapkan, uang untuk membeli bensin dikumpulkan dari kantong masing-masing relawan. Nominalnya mulai Rp10.000, Rp15.000, hingga Rp20.000.

"Jadi di sini ada masyarakat sebagai relawan mandiri, mereka ikut madamin setiap hari. Dan tahu nggak, buat beli bensin, buat ngidupin mesin ya, mereka itu patungan dari uang mereka masing-masing: Rp10.000, kadang Rp15.000, Rp20.000," kata Zaskia.

Cerita itu membuat Zaskia semakin tersentuh karena para relawan tidak mendapatkan bayaran atas tenaga yang mereka keluarkan. Bahkan, mereka harus menyisihkan uang pribadi untuk memastikan upaya pemadaman tetap berjalan, meski kondisi ekonomi mereka juga terbatas.

"Jadi, yang bikin terharu, mereka relawan mandiri, mereka nggak digaji. Bahkan mereka untuk memadamkan, untuk mereka butuh bahan bakar, mereka patungan, dan tidak dalam kondisi berlebih gitu, jadi dalam kondisi yang terbatas juga," ungkapnya.

Relawan Hadapi Karhutla Tanpa APD Lengkap

Selain keterbatasan biaya, para relawan juga menghadapi persoalan perlengkapan keselamatan. Zaskia menyebut warga yang ditemuinya belum memiliki alat pelindung diri (APD) lengkap ketika berupaya memadamkan kebakaran.

"Jadi memang karena nggak ada support, ya, mereka bener-bener mandiri tanpa APD lengkap. Y,  karena mereka bilang harus ngejaga dari sekitar," tuturnya.

Keputusan warga untuk turun tangan tidak terlepas dari kondisi kebakaran yang disebut telah mendekati permukiman. Mereka berusaha menjaga lingkungan sekitar agar api tidak semakin mengancam tempat tinggal.

"Karena ini sudah sampai ke dekat-dekat pemukiman warga gitu," ujar Zaskia.

Dalam video yang dibagikan, dia juga memperlihatkan mesin pompa air yang digunakan untuk membantu proses pemadaman. Peralatan tersebut menjadi salah satu sarana yang diandalkan para relawan di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.

Zaskia mengaku kunjungannya baru mencakup satu titik kebakaran. Namun, cerita dan kondisi yang dilihatnya secara langsung sudah membuatnya merasa berat membayangkan perjuangan warga yang berlangsung selama berbulan-bulan.

"Baru satu titik sudah berat banget. Berbulan-bulan mereka gini kayak.... apalagi nyampe Palangkaraya nih yang titiknya lebih berat," kata Zaskia.

Kisah para relawan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat berupaya melindungi lingkungan dan permukiman mereka di tengah karhutla. Dengan sumber daya yang terbatas, mereka tetap meluangkan waktu dan tenaga, bahkan mengeluarkan uang pribadi, untuk membantu memadamkan api.

Di balik upaya tersebut, kebutuhan akan perlengkapan keselamatan dan dukungan operasional menjadi hal penting agar relawan dapat menjalankan tugasnya dengan lebih aman. Sebab, menghadapi kebakaran bukan hanya membutuhkan keberanian dan semangat gotong royong, tetapi juga peralatan serta perlindungan yang memadai.

Topik Menarik