Ditutup gegara Serangan Houthi, Kingdom Centre Riyadh Jadi Kantor IMF dan Perusahaan AS

Ditutup gegara Serangan Houthi, Kingdom Centre Riyadh Jadi Kantor IMF dan Perusahaan AS

Terkini | inews | Senin, 19 Oktober 2026 - 09:27
share

RIYADH, iNews.id - Serangan kelompok Houthi Yaman ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, berdampak pada aktivitas perkantoran di gedung pencakar langit ikonik Kingdom Centre. Manajemen gedung mewajibkan seluruh karyawan kantor bekerja dari rumah atau work from home (WFH) mulai Minggu (18/10/2026) hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh penyewa perkantoran di gedung setinggi 99 lantai itu, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) serta sejumlah perusahaan besar asal Amerika Serikat (AS), seperti Merrill Lynch dan McKinsey.

Dalam pemberitahuan melalui email, manajemen Kingdom Centre meminta seluruh karyawan untuk tidak datang ke kantor selama kebijakan kerja jarak jauh diberlakukan.

"Harap diperhatikan bahwa pengaturan kerja jarak jauh bersifat wajib bagi seluruh karyawan kantor di Kingdom Centre, berlaku segera hingga pemberitahuan lebih lanjut," demikian pernyataan manajemen gedung dalam email, sebagaimana dikutip dari AFP, Senin (19/10/2026).

"Mohon untuk tidak datang ke kantor selama periode ini," lanjut pernyataan tersebut.

Meski aktivitas perkantoran dihentikan sementara, pusat perbelanjaan yang berada di bagian bawah gedung tetap beroperasi.

Kingdom Centre merupakan salah satu bangunan tertinggi di Arab Saudi sekaligus ikon Kota Riyadh. Keputusan memberlakukan WFH bagi seluruh penyewa kantor mencerminkan dampak meningkatnya ancaman keamanan terhadap aktivitas bisnis di ibu kota kerajaan tersebut.

Situasi keamanan di Riyadh juga berdampak pada sektor pendidikan dan transportasi. Sekolah-sekolah di ibu kota dan wilayah sekitarnya memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk pekan kedua.

Sementara itu, Bandara Internasional King Khalid Riyadh masih ditutup setelah serangan besar pada 10 Oktober lalu menewaskan 13 orang.

Ketegangan terbaru ini terjadi ketika konflik antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran kembali memanas sejak Juli 2026. Perang yang telah berlangsung lebih dari satu dekade tersebut sebelumnya mereda setelah kedua pihak memberlakukan gencatan senjata sejak Maret 2022.

Di tengah meningkatnya konflik, koalisi pimpinan Saudi juga mengumumkan kematian dua personel militernya. Keduanya merupakan pilot helikopter yang meninggal di wilayah Najran, dekat perbatasan Yaman.

Koalisi menyebut kematian kedua personel itu disebabkan oleh "gangguan teknis". Namun, pengumuman itu muncul setelah juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya menembak jatuh helikopter Apache milik Arab Saudi di wilayah yang sama.

Klaim Houthi tersebut belum dikonfirmasi oleh pernyataan koalisi yang menyebut gangguan teknis sebagai penyebab insiden.

Topik Menarik