Prancis Rusuh, Demonstrasi Menjalar ke Belgia hingga Italia
PARIS, iNews.id - Gelombang demonstrasi yang diwarnai kerusuhan melanda Prancis dan menjalar ke sejumlah negara Eropa, termasuk Belgia, Portugal, dan Italia. Massa turun ke jalan untuk memprotes melonjaknya biaya hidup, mahalnya harga kebutuhan pokok, serta persoalan layanan publik.
Di Prancis, demonstrasi pada Sabtu (17/10/2026) melibatkan ratusan ribu orang, terdiri atas pelajar dan mantan aktivis gerakan rompi kuning. Aksi yang berlangsung di puluhan kota itu berubah menjadi kerusuhan, diwarnai bentrokan dengan polisi, penjarahan toko, pembakaran kendaraan, hingga perusakan gedung pemerintah.
Kerusuhan juga terjadi di negara-negara Eropa lainnya. Di Belgia, sejumlah demonstran terlibat bentrokan dengan polisi. Sementara itu, di Italia, aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa setelah demonstrasi menentang tingginya biaya hidup berubah menjadi kekacauan.
Di Portugal, puluhan ribu orang berunjuk rasa di Lisbon untuk memprotes mahalnya perumahan dan biaya hidup lainnya. Adapun di Albania, demonstrasi memasuki hari kelima dengan tuntutan pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama, di tengah kemarahan masyarakat terhadap korupsi, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan.
Kerusuhan Meluas di Prancis
Prancis menjadi pusat gelombang demonstrasi yang berlangsung pada Sabtu. Ratusan ribu orang turun ke jalan untuk menentang kenaikan biaya hidup dan penurunan layanan publik. Namun, sejumlah kelompok perusuh memanfaatkan situasi untuk melakukan kekerasan dan penjarahan.
Di Limoges, balai kota dibakar. Sementara itu, di Marseille, demonstran berpakaian hitam menerobos masuk ke balai kota dan merusak bangunan dengan grafiti bernuansa anarkistis. Di Lyon, massa membakar kantor pariwisata kota.
Di Paris, para perusuh berusaha menerobos masuk ke gerai Galeries Lafayette. Mereka juga menjarah toko pakaian Lacoste dan butik-butik lainnya, menghancurkan bank, serta merampok gerai telepon seluler SFR. Sejumlah kendaraan turut dibakar.
Polisi menembakkan gas air mata di beberapa bagian Paris untuk menghadapi demonstran yang sebagian besar masih muda. Banyak peserta aksi mengenakan pakaian hitam, hoodie, masker, dan kacamata untuk melindungi diri dari gas air mata.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menegaskan pemerintah tidak akan menyerah pada intimidasi. Dia menyalahkan kerusuhan tersebut kepada kelompok sayap kiri ekstrem dan para pelaku kriminal, terutama menjelang pemilihan presiden (pilpres).
“Kepada mereka yang jelas-jelas ingin menggunakan kekerasan ini sebagai ‘pemanasan’ sebelum pemilihan presiden, saya sampaikan dengan tegas: Kami tidak akan membiarkan diri kami diintimidasi. Tidak seorang pun bisa memaksakan agenda politik mereka melalui kekerasan,” tulis Lecornu di media sosial X.
Dia mengatakan polisi telah menangkap sekitar 1.200 orang di seluruh Prancis. Pemerintah memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi tersebut, sedangkan serikat pekerja CGT memperkirakan jumlahnya mencapai 800.000 orang.
Presiden Emmanuel Macron juga berjanji menuntut dan menghukum para pelaku kekerasan.
“Kita semua bersatu melawan para penebar kekacauan, yang hanya berusaha merusak institusi kita dan mencegah mereka yang secara damai menyampaikan tuntutan,” kata Macron di X.
Belgia dan Italia Diguncang Bentrokan
Gelombang protes juga terasa di Belgia. Di Brussels, ratusan orang, sebagian besar anak muda, turun ke jalan dalam demonstrasi yang sebagian terinspirasi oleh aksi di Prancis. Beberapa di antaranya terlibat bentrokan dengan polisi.
Kelompok pelajar Belgia mengatakan mereka memprotes kenaikan biaya pendidikan serta reformasi yang dikhawatirkan membuat pendidikan tinggi semakin sulit dijangkau.
Sementara itu, di Italia, demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Milan berubah menjadi kekacauan. Polisi membubarkan massa dari alun-alun di sekitar katedral pusat kota dengan menggunakan gas air mata.
Di Bologna, aparat menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran dan menangkap sejumlah orang setelah aksi berubah menjadi kekerasan.
Rangkaian demonstrasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi menjadi sumber keresahan masyarakat di sejumlah negara Eropa. Meski tuntutan di setiap negara tidak sepenuhnya sama, mahalnya biaya hidup dan kekhawatiran terhadap akses layanan publik menjadi isu yang menonjol.
Portugal dan Albania Juga Dilanda Protes
Di Portugal, puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan Lisbon untuk memprotes tingginya biaya perumahan dan kebutuhan hidup lainnya. Aksi itu berlangsung setelah beberapa hari terjadi kerusuhan.
Harga perumahan di Portugal telah meningkat berlipat ganda sejak 2017, memicu salah satu krisis keterjangkauan terburuk di Eropa. Kondisi tersebut membuat biaya tempat tinggal menjadi salah satu persoalan utama yang membebani masyarakat.
Di Albania, demonstrasi massal memasuki hari kelima. Para demonstran menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama, sekaligus menyuarakan kemarahan terhadap korupsi, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan.
Polisi menembakkan peluru karet ke arah demonstran selama aksi berlangsung.
Meluasnya demonstrasi di berbagai negara Eropa menempatkan pemerintah masing-masing di bawah tekanan untuk merespons keresahan masyarakat. Di Prancis, tantangannya semakin besar karena protes terhadap biaya hidup telah disertai penjarahan, pembakaran, dan bentrokan yang melibatkan aparat keamanan.










