Hotspot Karhutla Turun Jadi 387 Titik, Sumsel dan Kalteng Masih Tertinggi
JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun menjadi 387 titik pada Kamis (8/10/2026). Angka ini berkurang 789 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.176 titik.
Meski terjadi penurunan, Sumatera Selatan (Sumsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi menuturkan, penurunan jumlah hotspot merupakan perkembangan positif yang perlu dipertahankan. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran berkurang.
"Penurunan tersebut merupakan perkembangan yang perlu terus dijaga. Namun, Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa kewaspadaan tidak dapat dikurangi karena dinamika karhutla dapat berubah dengan cepat dan kondisi antarwilayah tidak selalu sama," kata Ristianto dalam siaran keterangannya dikutip, Sabtu (10/10/2026).
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), Sumsel mencatat 130 hotspot, turun dari 224 titik sehari sebelumnya. Sementara itu, Kalteng mencatat 86 titik, berkurang dari 225 titik.
Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi satu-satunya provinsi prioritas yang mengalami kenaikan jumlah hotspot, yakni dari 31 menjadi 37 titik. Adapun Kalimantan Barat mencatat 12 titik, turun dari 47 titik, sedangkan Jambi turun dari 16 menjadi tiga titik. Riau tidak mencatat hotspot pada periode tersebut.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 268 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, turun dari 543 titik sehari sebelumnya. Data tersebut bersumber dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Ristianto mengingatkan, jumlah hotspot tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar. Sebab, satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas.
"Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar," kata Ristianto dalam keterangannya.
Karena itu, setiap indikasi hotspot perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan atau groundcheck. Langkah ini diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya sekaligus menentukan tindakan penanganan yang tepat.
Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya.
Untuk mendukung penanganan, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara. Jumlah tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk operasi water bombing atau pemadaman menggunakan bom air.
Operasi udara didukung penanganan di darat, mulai dari patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan. Perhatian khusus diberikan pada kawasan gambut karena bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat.
"Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman," demikian keterangan Kemenhut.
Di sisi lain, pemerintah juga memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5. Sebagian wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah area di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, sebagian wilayah Kalimantan dilaporkan berada dalam kategori berbahaya.
Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Jika kondisi udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
Kemenhut mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke permukiman agar tidak melakukan evakuasi secara mandiri.
"Jaga jarak, hindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, catat lokasi serta kondisi satwa apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat," demikian imbauan Kemenhut.
Kemenhut juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Penurunan hotspot harus diikuti patroli, deteksi dini, respons cepat, serta keterlibatan masyarakat untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
Masyarakat yang menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar yang membutuhkan penanganan dapat melapor ke Posko Karhutla Kemenhut melalui telepon 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.









