Cerita Komite Norwegia Tak Bisa Hubungi Pemenang Nobel Perdamaian 2026: Tolong Angkat Teleponnya!
OSLO, iNews.id - Komite Nobel Norwegia punya cerita unik setelah mengumumkan Navi Pillay sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2026, Jumat (9/10/2026). Komite tersebut ternyata belum berhasil menghubungi perempuan asal Afrika Selatan itu untuk menyampaikan kabar bahwa dirinya meraih penghargaan bergengsi tersebut.
Ketua Komite Nobel Norwegia, Jørgen Watne Frydnes, bahkan meminta Pillay mengangkat telepon jika melihat panggilan masuk dari nomor Norwegia. Upaya menghubungi mantan hakim Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) itu belum membuahkan hasil karena panggilan ke nomor teleponnya di Afrika Selatan tak kunjung dijawab.
"Sayangnya, sejauh yang saya tahu, kami belum bisa menghubungi Navi Pillay. Jadi, pesan saya untuknya: jika Anda melihat ada panggilan masuk dari nomor Norwegia, mohon diangkat," ujar Frydnes, seperti dikutip dari CNN, Jumat (9/10/2026).
Kode panggilan internasional Norwegia adalah +47. Permintaan Frydnes itu pun menjadi salah satu cerita menarik di balik pengumuman pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini.
Dito Ariotedjo Dipanggil Jadi Saksi Sidang Korupsi Kuota Haji, KPK Soroti Lawatan ke Arab Saudi
Pillay sendiri akhirnya mengetahui kabar kemenangannya dari rekan-rekannya. Namun, perempuan yang lama berkecimpung dalam penegakan hukum internasional itu sempat tidak percaya bahwa dirinya benar-benar terpilih sebagai penerima penghargaan tersebut.
"Apakah ini benar? Saya kira ini pasti hanya prank," kata Pillay.
Salah seorang rekannya kemudian meyakinkan Pillay bahwa kabar tersebut benar adanya dan telah diberitakan berbagai media internasional.
"Tidak, beritanya sudah tersebar di mana-mana, bahkan sudah ada di BBC," kata rekannya.
Navi Pillay Raih Nobel Perdamaian 2026
Komite Nobel Norwegia mengumumkan Pillay sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2026 pada Jumat (9/10/2026). Dia dipilih atas keberanian dan integritas luar biasa yang ditunjukkannya dalam bidang hukum, serta kiprahnya memperjuangkan perdamaian dan hukum internasional.
Frydnes menjelaskan, Pillay membuktikan bahwa langkah-langkah hukum dapat membantu mencegah perang dan kekerasan selama menjabat sebagai hakim di ICC.
"Navi Pillay juga telah berkontribusi dalam memperkuat institusi-institusi hukum internasional," ujarnya.
Peringatan Keras Rusia: Semua Harus Paham Kami Bisa Pakai Senjata Nuklir, Bukan Nakut-nakuti!
Dalam pengumuman resminya, Komite Nobel Norwegia menyoroti konsistensi Pillay dalam mempertahankan prinsip-prinsip hukum universal sepanjang kariernya di bidang penegakan hukum internasional.
"Navi Pillay telah menuntut pertanggungjawaban negara dan para pemimpin nasional serta membawa harapan bagi para korban kekerasan dan konflik," demikian pernyataan komite.
Komite juga menegaskan bahwa Pillay selalu menekankan tanggung jawab individu maupun negara untuk mematuhi supremasi hukum dalam setiap jabatan yang diembannya.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kiprah Pillay dalam memperkuat pertanggungjawaban hukum di tingkat internasional, termasuk ketika berhadapan dengan negara dan para pemimpin politik.
Sempat Berkelakar soal Donald Trump
Momen ketika Pillay mengetahui dirinya meraih Nobel Perdamaian juga diwarnai kelakar mengenai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dalam video yang diunggah di media sosial X oleh Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard, Pillay terlihat menyampaikan tanggapan spontan setelah mendengar kabar kemenangannya.
Saat itu, dia sedang menghadiri acara di gedung pengadilan yang pernah menjadi tempat berlangsungnya Pengadilan Nuremberg sekitar 80 tahun silam.
Dalam tanggapannya, Pillay melontarkan candaan yang menyinggung Trump, yang sebelumnya berulang kali mengungkapkan kekecewaan karena tidak memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian 2025.
"Jika Anda bertepuk tangan sedikit lebih meriah, saya mungkin akan berbagi hadiah ini dengan (Donald) Trump," kata Pillay, berkelakar.
Trump sebelumnya menyesalkan keputusan Komite Nobel Perdamaian yang tidak memberinya penghargaan tersebut. Dia bahkan mencela komite itu karena dianggap tidak adil.
Trump merasa dirinya layak memperoleh Nobel Perdamaian karena mengklaim telah berhasil mendamaikan puluhan perang dan konflik di berbagai belahan dunia.
Meski demikian, penghargaan Nobel Perdamaian 2026 akhirnya jatuh kepada Pillay, yang dinilai memiliki rekam jejak panjang dalam memperjuangkan supremasi hukum dan pertanggungjawaban atas kekerasan serta konflik internasional.









