Masih Loyo, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.694 per Dolar AS 

Masih Loyo, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.694 per Dolar AS 

Terkini | inews | Selasa, 15 September 2026 - 15:41
share

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan, Selasa (15/9/2026). Rupiah turun 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.694 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi pada hari Senin, sembari memperkuat posisi mereka di titik-titik strategis di sepanjang Laut Merah.

"Posisi-posisi tersebut juga memungkinkan kelompok itu melancarkan lebih banyak serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab, sehingga mengancam pasokan minyak di kawasan tersebut," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Sebagai informasi, Houthi menyerang sejumlah target di Arab Saudi pada hari Senin, yang semakin mengancam ekspor minyak negara itu setelah serangan pekan sebelumnya melumpuhkan operasional pipa minyak lintas-negara (timur-barat) milik Riyadh.

Serangan ofensif Houthi ini membuka front baru dalam konflik Timur Tengah; para analis memperkirakan bahwa perkembangan ini dapat mengganggu tambahan 4-5 persen dari pasokan global.

Kemudian, pembicaraan mengenai Selat Hormuz ditunda, di mana Iran menyatakan tidak akan ada dialog dengan AS sampai syarat-syarat mereka dipenuhi. Oman pada hari Minggu menunda pertemuan yang sedianya digelar hari Senin antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz. 

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada hari Senin kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai. 

Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut dan menyatakan bahwa tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat mereka dipenuhi, terutama tuntutan agar AS mematuhi ketentuan gencatan senjata bulan Juni yang kini sudah tidak berlaku lagi.

Dari sentimen dalam negeri, pemerintah membutuhkan sosok yang mampu mengembalikan kepastian dan kredibilitas dalam pengelolaan fiskal serta memanfaatkan anggaran negara guna mendorong pertumbuhan. 

Sosok yang cocok untuk mengganti posisi Purbaya Yudi Sadewa adalah Suhasil Nazara, sehingga beliau dilantik menjadi Menteri Keuangan yang baru. Penunjukannya akan memperkuat kepercayaan terhadap disiplin fiskal dan kerangka defisit di bawah 3 persen.

Akan tetapi, tantangan yang menunggu Suahasil sejatinya jauh lebih besar daripada sekadar menjaga angka defisit. Sebab, beliau harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia.

Pemerintah memiliki ambisi pertumbuhan cukup tinggi. Dalam RAPBN 2027, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6 persen, sementara belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun.

Pendapatan negara ditargetkan Rp3.426 triliun, sehingga pembiayaan mencapai Rp571,2 triliun dengan defisit 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka-angka itu sebenarnya sudah menunjukkan dilema yang akan dihadapi Suahasil.

Sebagai teknokrat fiskal yang berpengalaman dari internal Kementerian Keuangan, pengangkatan Suahasil tidak terlalu banyak mengejutkan pasar. Suahasil sebagai pilihan yang menjamin kesinambungan dan kredibilitas.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.690-Rp17.750 per dolar AS.

Topik Menarik