81,1 Wilayah RI Masih Kemarau, BMKG Ungkap Daerah yang Berpotensi Hujan Lebat

81,1 Wilayah RI Masih Kemarau, BMKG Ungkap Daerah yang Berpotensi Hujan Lebat

Terkini | inews | Jum'at, 11 September 2026 - 08:26
share

JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 81,1 persen wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim (ZOM) masih berada dalam periode musim kemarau hingga awal September 2026. Meski kondisi kering masih mendominasi, BMKG memperingatkan potensi hujan sedang hingga sangat lebat secara lokal pada 11–17 September 2026.

“Memasuki September 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, atau sekitar 0–150 mm per dasarian,” tulis BMKG dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 mm per dasarian, diprakirakan masih mendominasi sebagian besar Sumatera bagian selatan, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian besar Papua.

Kondisi kering diprediksi masih berlanjut di wilayah-wilayah tersebut. Meski begitu, hujan masih berpeluang turun di sejumlah daerah pada periode 11–17 September 2026.

“Meskipun demikian, peluang hujan tetap ada di sejumlah wilayah. Pada periode 11–17 September 2026, hujan diprakirakan masih berpotensi terjadi di sebagian Sumatra, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Papua Pegunungan, dan Papua,” kata BMKG.

Potensi hujan tersebut dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer, di antaranya Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah wilayah Indonesia.

Kondisi atmosfer yang cukup labil, terutama di sebagian Sumatra dan Papua, turut mendukung pertumbuhan awan hujan. Faktor konvektif lokal juga diprediksi memberikan pengaruh signifikan terhadap pembentukan awan hujan selama musim kemarau.

“Dengan demikian, meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, potensi hujan sedang-lebat/sangat lebat secara lokal tetap perlu diwaspadai. Pada saat yang sama, wilayah yang masih mengalami curah hujan rendah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran asap,” ungkap BMKG.

Pada periode 11–13 September 2026, cuaca di Indonesia secara umum didominasi kondisi berawan hingga hujan sedang.

Peningkatan hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Papua.

Hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang juga berpotensi terjadi. Berikut wilayah dengan kategori tingkat peringatan dini:

Siaga (hujan lebat–sangat lebat): Aceh dan Sumatera Utara.

Angin kencang: Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

Potensi Hujan 14–17 September 2026

Pada periode 14–17 September 2026, cuaca Indonesia umumnya diprediksi cerah berawan hingga hujan sedang.

Peningkatan hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, dan Papua.

Hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

Siaga (hujan lebat–sangat lebat): Aceh.

Angin kencang: Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.

BMKG mengimbau masyarakat tetap mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering selama musim kemarau. Penggunaan tabir surya diperlukan untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari.

“Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan,” kata BMKG.

Seiring menguatnya kondisi kering, BMKG juga mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.

“Masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api,” imbau BMKG.

Topik Menarik