Rupiah Terancam Anjlok ke Rp17.590, Harga Minyak Dunia jadi Biang Kerok

Rupiah Terancam Anjlok ke Rp17.590, Harga Minyak Dunia jadi Biang Kerok

Terkini | inews | Jum'at, 11 September 2026 - 07:43
share

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Rupiah tertekan eskalasi militer AS-Iran di Selat Hormuz, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, serta kekhawatiran terhadap beban fiskal akibat mahalnya impor energi.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak di zona merah sepanjang perdagangan hari ini, meski sentimen konsumen domestik masih memberikan sedikit dukungan.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun diprediksi ditutup melemah di rentang Rp17.540 hingga Rp17.590 per dolar AS,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Tekanan terhadap rupiah datang dari memburuknya kondisi geopolitik setelah konflik bersenjata AS dan Iran kembali memanas. Konflik tersebut mencatatkan rangkaian serangan terparah terhadap armada perkapalan sejak dimulai pada Februari lalu, setelah sempat mereda pada Agustus.

Militer Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar kawasan strategis Selat Hormuz pada Rabu. AS kemudian membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran.

Situasi tersebut ikut membuat pelaku pasar bersikap defensif. Perhatian investor juga tertuju pada rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS serta inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat.

Data inflasi tersebut dinantikan untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed pada pertemuan pekan depan dalam meredam tekanan harga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini telah memperhitungkan peluang sekitar 60 persen bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik di jalur pelayaran strategis turut meningkatkan risiko terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Kebutuhan pasokan energi impor dengan harga lebih tinggi berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS. Kondisi tersebut sekaligus dapat memperlebar defisit fiskal pemerintah.

“Meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian karena secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, baik BBM maupun LPG,” kata Ibrahim.

Ibrahim memaparkan, apabila penerimaan negara tidak mampu mengimbangi kenaikan belanja subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran melampaui target resmi semakin terbuka.

Kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor minyak yang semakin mahal juga berpotensi memberikan tekanan langsung terhadap nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, pemerintah berpotensi mengambil opsi penyesuaian harga BBM domestik untuk mengurangi tekanan terhadap kas negara. Namun, kebijakan tersebut berisiko memicu lonjakan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Pemerintah sejauh ini mengandalkan bantalan fiskal dari penerimaan ekspor komoditas nonmigas untuk meredam gejolak tersebut. Namun, ketidakpastian pasar internasional membuat kesinambungan fiskal tetap menjadi perhatian utama pemangku kebijakan.

Di tengah tekanan eksternal, pelemahan rupiah sedikit tertahan oleh rilis data kepercayaan konsumen domestik yang menunjukkan sinyal ekspansi. Meski demikian, pola belanja masyarakat masih dinilai memiliki kerentanan struktural terhadap ketahanan ekonomi riil.

“Tekanan penurunan rupiah tertahan oleh sentimen konsumen bulan Agustus yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan berkat prospek ekonomi yang cerah,ntetapi peningkatan konsumsi ini belum dibarengi kenaikan pendapatan sehingga masyarakat masih terjerat fenomena makan tabungan demi menopang belanja,” kata Ibrahim.

Topik Menarik