Ancaman Sunyi Abu Vulkanik

Ancaman Sunyi Abu Vulkanik

Terkini | inews | Selasa, 8 September 2026 - 15:25
share

Salman Ibnu Hasky
Jurnalis iNews

KAMIS, 24 Juni 1982, pukul 20.42, langit Samudra Hindia mengirim pesan paling kelam bagi pesawat City of Edinburgh jenis Boeing 747. Di bawah pesawat itu, Gunung Galunggung di Jawa Barat sedang meletus dan mengumbar abu ke seantero penjuru langit.

Celakanya, teknologi radar penerbangan saat itu hanya bisa mendeteksi partikel air. Abu vulkanik yang kering bukanlah air. Karenanya, layar radar tak mampu menangkap detak jantung debu.

Abu menyentuh pesawat City of Edinburgh, diikuti gerombolan abu lain. Di mesin pesawat yang panas, abu letusan gunung menyatu, kemudian meleleh seperti cairan kaca. Mesin pesawat gagap bekerja hingga kehilangan fungsi. Empat mesin mati satu per satu.

Pesawat melayang sunyi tanpa mesin penggerak. Gelap malam benar-benar mencekam. Penumpang dan seluruh kru menanti bagaimana kematian akan datang. Dihentak badan pesawat? Panas terbakar? Atau sulit bernapas di laut samudra?

Pesawat terus terbang merendah. Dari ketinggian 40 ribu kaki hingga belasan ribu saja.

Pilot Eric Moody meraih mikrofon dengan tenang seakan telah berdamai dengan keadaan. Kata-katanya kepada penumpang lewat pengeras suara kelak dicatat sejarah sebagai salah satu kalimat paling tenang di pintu gerbang kematian:

“Ladies and gentlemen, this is your captain speaking. We have a small problem. All four engines have stopped. We are doing our damnedest to get them going again. I trust you are not in too much distress.”

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, ini kaptenmu yang berbicara. Kita mengalami sedikit masalah. Keempat mesin pesawat mati. Kami sedang berupaya sekuat tenaga untuk menghidupkannya kembali. Saya harap Anda sekalian tidak terlalu cemas.”

Tapi kalau belum takdirnya mati, ajal tentu harus mengalah. Sekitar 15 menit setelah terbang terus merendah, satu mesin pesawat mulai kembali menyala saat ketinggian tepat 13.500 kaki. Harapan hidup kembali muncul. Ajal sedikit demi sedikit undur diri. Pesawat bisa dikendalikan lagi dan berhasil mendarat di aspal Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sebanyak 263 penumpang terbebas dari kematian yang hanya berjarak sejengkal dari urat lehernya.

Insiden pesawat City of Edinburgh yang terbang dari Malaysia menuju Australia itu kemudian dikenal dengan sebutan Jakarta Incident. Ada juga yang menyebutnya The Volcano Flight, karena menjadi kasus pertama pesawat komersial lumpuh total akibat debu letusan gunung berapi.

Peristiwa ini memicu reformasi besar-besaran dalam mitigasi dampak buruk bagi industri penerbangan yang melintas dekat area gunung berapi. Pengalaman City of Edinburgh, ketika mesin kembali menyala setelah pesawat keluar dari kepungan abu, kemudian menjadi pelajaran penting dalam menghadapi petaka abu vulkanik. Pilot diminta segera keluar dari kepungan abu dan turun ke ketinggian yang lebih rendah agar abu tidak beku dan menghambat kerja mesin pesawat.

Selain strategi taktis menghadapi abu vulkanik, dibentuk juga sebuah lembaga yang khusus memantau gunung api yang dilintasi penerbangan komersial. Temuan dan informasi dari lembaga ini kemudian menjadi navigasi bagi pesawat saat melintas di udara.

Insiden pesawat City of Edinburgh akibat abu Gunung Galunggung di Jawa Barat pada 1982 juga menjadi salah satu tonggak lahirnya sistem dan aturan ketat zona larangan terbang untuk menghindari awan abu vulkanik. Sistem inilah yang kemudian menjadi dasar pengambilan keputusan untuk menutup penerbangan di Eropa saat Gunung Api Eyjafjallajokull di Islandia meletus pada 2010.

Kala itu, aturan zero tolerance terhadap abu vulkanik membuat sekitar 100 ribu penerbangan batal dan sekitar 10 juta penumpang telantar karena tak bisa masuk atau keluar Eropa. Perusahaan penerbangan merugi, begitu pun pengelola bandara karena nihil aktivitas ritel. Peristiwa ini dianggap sebagai krisis penerbangan terbesar sejak Perang Dunia II.

Lalu, 44 tahun kemudian, 6 September 2026, krisis penerbangan paling parah terjadi di Indonesia akibat meletusnya Gunung Anak Krakatau. Letaknya yang berada di Selat Sunda membuat abu vulkanik mudah mencapai gerbang utama Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta. Setelah itu, menyusul delapan bandara ikut ditutup sementara. Ratusan ribu penumpang gagal terbang. Sebagian penumpang harus rela menginap di bandara demi kepastian jadwal penerbangan.

Satu hari berikutnya, Bandara Soekarno-Hatta yang merupakan bandara paling besar dan paling sibuk di Indonesia itu masih tutup untuk penerbangan, meski intensitas sebaran abu vulkanik mulai berkurang. Pemerintah dan otoritas lain tak ingin berjudi. Keselamatan penerbangan menjadi taruhan, meskipun hasil pantauan dan berbagai uji menunjukkan abu vulkanik benar-benar sudah berkurang.

Ceroboh sedikit, nyawa penumpang jadi taruhan. Tak ada yang ingin insiden City of Edinburgh kembali terjadi di langit Indonesia dengan wajah mematikan.

Topik Menarik