Bukan Cuma Perokok Aktif, Dokter Ungkap 5 Kelompok Ini Berisiko Kena Kanker Paru
JAKARTA, iNews.id - Kanker paru bukan hanya mengintai perokok aktif. Dokter Spesialis Paru MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr Linda Masniari, Sp.P (K), Onk. T., FISR, mengungkapkan lima kelompok lain yang juga memiliki risiko terkena kanker paru.
Selama ini, kanker paru kerap dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Padahal, ada sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit tersebut.
Menurut dr Linda, kondisi ini menjadi salah satu alasan kanker paru sering ditemukan ketika sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, peluang hidup pasien dapat jauh berbeda apabila kanker ditemukan sejak stadium awal.
Dia menyebut, pasien dengan kanker paru stadium 1A memiliki angka ketahanan hidup lima tahun hampir 92 persen. Sementara pada stadium 4, angka ketahanan hidupnya kurang dari 1 persen.
“Kalau masih stage 1, stage 1 itu 92 persen. Tapi kalau sudah stage 4, kurang dari 1 persen. Jadi jauh banget,” kata dr Linda saat ditemui di MRCCC Hospital Siloam Semanggi pada Selasa (1/9/2026).
Sebab itu, mengenali faktor risiko dan melakukan deteksi dini menjadi penting, khususnya bagi masyarakat yang masuk dalam kelompok berisiko.
Berikut lima kelompok yang perlu lebih waspada terhadap kanker paru:
1. Perokok Aktif dan Bekas Perokok
Rokok masih menjadi salah satu faktor risiko utama kanker paru. Kelompok yang perlu diperhatikan bukan hanya orang yang masih aktif merokok, tetapi juga mereka yang memiliki riwayat merokok meski sudah berhenti.
Usia juga menjadi pertimbangan. Orang berusia di atas 40 tahun dengan riwayat merokok disarankan lebih memperhatikan kondisi paru-parunya.
Screening dapat dilakukan meski seseorang belum mengalami gejala. Pemeriksaan tersebut bertujuan menemukan kanker pada kelompok berisiko sebelum penyakit berkembang lebih jauh.
2. Perokok Pasif
Tidak merokok bukan berarti seseorang sepenuhnya terbebas dari risiko kanker paru. Orang yang sering menghirup asap rokok dari lingkungan juga termasuk kelompok yang perlu waspada.
Paparan asap rokok secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko kanker paru. Karena itu, orang yang sehari-hari berada di lingkungan dengan paparan asap rokok perlu menyadari potensi risiko tersebut.
3. Memiliki Riwayat Kanker dalam Keluarga
Riwayat kanker dalam keluarga juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Seseorang dengan riwayat kanker dalam keluarga dapat memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kanker dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut.
“Kalau dia ada riwayat cancer itu secara genetik dua kali lipat lebih besar kemungkinan terjadinya cancer dibanding orang tanpa riwayat keluarga,” katanya.
Riwayat keluarga yang perlu diperhatikan tidak hanya terbatas pada ayah atau ibu. Kerabat lain, termasuk sepupu, juga dapat menjadi informasi ketika seseorang menilai faktor risikonya.
4. Pernah Mengalami Penyakit Paru
Orang yang memiliki riwayat penyakit paru sebelumnya juga perlu lebih waspada. Misalnya, mereka yang pernah mengalami tuberkulosis (TB) atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Khusus pasien yang pernah mengalami TB, dr Linda menganjurkan pemeriksaan kondisi paru secara berkala.
“Pasien-pasien yang bekas TB kita selalu anjurkan untuk every year itu untuk foto toraks. Karena kemungkinan untuk kanker paru besar,” ujarnya.
5. Sering Terpapar Asap dari Lingkungan
Risiko kanker paru juga dapat berasal dari lingkungan sehari-hari. Selain asap rokok, paparan asap kendaraan bermotor, asap tungku atau pembakaran kayu, hingga paparan tertentu di lingkungan pekerjaan dan tempat tinggal perlu diperhatikan.
Orang yang bekerja di lingkungan seperti pertambangan, galangan kapal, hingga sejumlah pabrik juga dapat mengalami paparan yang berpotensi meningkatkan risiko kanker paru.
“Jadi semuanya akan meningkatkan risiko terjadinya cancer. Jadi kita harus aware,” kata dr Linda.
Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
Dr Linda menekankan pentingnya deteksi dini karena kanker paru sering ditemukan terlambat. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat cenderung baru mencari pertolongan medis ketika sudah mengalami keluhan.
Padahal, screening dapat dilakukan pada orang yang belum memiliki gejala tetapi sudah masuk kelompok berisiko. Jenis pemeriksaan juga dapat disesuaikan dengan tingkat risiko seseorang.
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah low-dose CT scan. Pemeriksaan ini mampu melihat kelainan paru berukuran lebih kecil dibandingkan foto toraks biasa.
“Kalau dengan foto toraks biasa biasanya kalau lihat ada nodul atau benjolan itu kalau dia sudah lebih dari 2 cm. Tapi dengan CT scan atau low dose CT scan itu dengan 1 cm itu sudah kelihatan,” ujar dr Linda.










