Pangeran Harry dan Meghan Markle Kembali ke Inggris, Kerajaan Tak Akan membantu Jika Ada Masalah

Pangeran Harry dan Meghan Markle Kembali ke Inggris, Kerajaan Tak Akan membantu Jika Ada Masalah

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 1 September 2026 - 13:35
share

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa terjadi inflasi pada Agustus 2026 secara bulanan sebesar 0,21 terhadap Juli 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, selain inflasi bulanan, terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.

"Pada bulan Agustus 2026 terjadi deflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan atau month to month," kata Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Secara tahun ke tahun, lanjut Ateng, terjadi inflasi sebesar 3,19 dan secara tahun kalender atau year of date, terjadi inflasi sebesar 1,86. Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi sebesar 0,57 dan memberikan andil inflasi 0,17.

Baca Juga: Mendagri Minta Pemda Perkuat Pengendalian Inflasi agar Tetap di Bawah Target Pemerintah

Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah daging ayam ras yang memberikan andil 0,17, cabai rawit, ikan segar dan beras dengan andil 0,02, serta kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin dengan andil 0,01.

"Selain makanan, minuman dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen dengan inflasi sebesar 0,37 persen," ujar Ateng.

Baca Juga: Indonesia Deflasi 0,14 di Juli 2026, BPS Ungkap Pendorong Utamanya

Adapun inflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh inflasi pada emas perhiasan sebesar 0,75 dan memberikan andil 0,02. Pada bulan Agustus 2026, kata Ateng, kelompok transportasi menyumbang andil deflasi yang cukup signifikan.

"Kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,50 persen dan memberikan andil deflasi 0,06 persen. Adapun komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok transportasi terutama tarif angkatan udara dengan andil deflasi 0,06 persen dan bensin 0,03 persen," jelas Ateng.

Topik Menarik