70 Persen Orang Indonesia Intoleran Laktosa, Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id – Sebagian masyarakat mungkin pernah mengalami perut kembung, mulas, bergas, hingga diare setelah minum susu. Kondisi tersebut tidak selalu berarti susu tidak cocok dengan tubuh. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah intoleransi laktosa.
Intoleransi laktosa merupakan kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa, yakni gula alami yang terdapat dalam susu dan produk olahannya. Kondisi ini berkaitan dengan rendahnya produksi enzim laktase di dalam tubuh.
Di Indonesia, intoleransi laktosa cukup umum. Berdasarkan informasi yang disampaikan praktisi kesehatan dr. Farhan Zubedi dalam laporan MilkLife, sekitar 70 persen masyarakat Indonesia mengalami intoleransi laktosa.
Lantas, mengapa kondisi tersebut bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman setelah minum susu?
Apa yang Terjadi Saat Tubuh Kekurangan Enzim Laktase?
Dokter Farhan menjelaskan, tubuh membutuhkan enzim laktase untuk memecah laktosa menjadi bentuk gula yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh tubuh.
"Hal itu terjadi karena di tubuh seseorang kekurangan enzim laktase yang seharusnya mengubah laktosa menjadi glukosa dan juga galaktosa. Kalau laktase ini tidak ada, berarti laktosa tidak bisa dicerna, maka akan sampai ke usus besar," ungkap dr. Farhan dalam pernyataan resminya, Senin (31/8/2026).
Ketika laktosa tidak tercerna dengan baik di usus halus, zat tersebut kemudian mencapai usus besar. Di sana, laktosa akan difermentasi oleh bakteri yang secara alami hidup di dalam saluran pencernaan.
Proses fermentasi tersebut menghasilkan gas dan dapat meningkatkan kandungan cairan di dalam usus. Akibatnya, muncul sejumlah keluhan pencernaan yang biasanya dirasakan setelah mengonsumsi susu.
Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain perut kembung, banyak gas, kram atau sakit perut, hingga diare.
Gejala dan tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang. Artinya, seseorang dengan intoleransi laktosa belum tentu mengalami keluhan yang sama atau dengan tingkat keparahan yang sama setelah mengonsumsi susu.
Intoleransi Laktosa Bukan Berarti Harus Menghindari Semua Susu
Kondisi ini juga tidak serta-merta berarti seseorang harus menghilangkan seluruh asupan susu dari pola makan.
Susu dan produk olahannya tetap dapat menjadi sumber berbagai zat gizi, termasuk protein dan kalsium. Karena itu, orang yang mengalami keluhan akibat laktosa perlu mengetahui pilihan yang sesuai dengan kondisi pencernaannya.
Salah satu alternatifnya adalah susu bebas laktosa (lactose-free). Pada susu jenis ini, laktosa dipecah terlebih dahulu melalui proses enzimatis menjadi glukosa dan galaktosa. Dengan demikian, tubuh tidak perlu memproses laktosa dalam bentuk yang sama seperti pada susu biasa.
Proses tersebut juga dapat membuat susu bebas laktosa memiliki rasa yang cenderung lebih manis secara alami, meski tidak selalu berarti kandungan gulanya lebih tinggi.
Bagaimana Memastikan Seseorang Intoleran Laktosa?
Kembung setelah minum susu memang dapat menjadi salah satu tanda, tetapi tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami intoleransi laktosa.
Keluhan serupa dapat disebabkan berbagai kondisi pencernaan lainnya. Karena itu, jika gejala muncul berulang atau cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu memastikan penyebabnya.
Dalam beberapa kasus, dokter dapat menilai hubungan antara konsumsi makanan yang mengandung laktosa dengan munculnya gejala. Pemeriksaan tertentu juga dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis apabila diperlukan.
Hal penting lainnya adalah tidak melakukan pembatasan makanan secara berlebihan tanpa mengetahui penyebabnya. Menghindari susu sepenuhnya dalam jangka panjang perlu dipertimbangkan dengan baik agar kebutuhan zat gizi, terutama kalsium dan protein, tetap terpenuhi dari sumber lain.
Susu Bebas Laktosa Bisa Jadi Pilihan
Bagi orang yang memang mengalami intoleransi laktosa, susu bebas laktosa dapat menjadi salah satu pilihan untuk tetap memperoleh nutrisi dari susu tanpa mendapatkan paparan laktosa dalam jumlah seperti pada susu biasa.
Namun, toleransi setiap orang tetap berbeda. Sebagian orang dengan intoleransi laktosa bahkan masih dapat mengonsumsi sejumlah kecil laktosa tanpa mengalami gejala berarti, tergantung tingkat sensitivitas masing-masing.
Karena itu, yang terpenting bukan sekadar menghindari susu, melainkan memahami seberapa besar tubuh dapat mentoleransi laktosa dan memilih sumber nutrisi yang sesuai.
Dengan pemahaman tersebut, intoleransi laktosa tidak harus menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan nutrisi dari susu dan produk olahannya.
Bagi masyarakat yang tetap ingin mengonsumsi susu tetapi mengalami keluhan setelah minum susu biasa, produk lactose-free dapat dipertimbangkan sebagai alternatif.
Di pasaran, sejumlah produsen telah menyediakan pilihan susu bebas laktosa dengan kandungan nutrisi yang tetap dipertahankan.
"Susu lactose-free diformulasikan secara khusus agar aman bagi penderita intoleransi laktosa, rendah kolesterol, namun tetap kaya protein," ujar Business Unit Head Dairy Savoria, Didiet Fadriana Abdulkadir, selaku produsen MilkLife.
Yang perlu diperhatikan, sambung Didiet, mengonsumsi susu bebas laktosa tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing individu. Dan pada akhirnya, memahami intoleransi laktosa menjadi penting agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa susu harus dihindari ketika muncul keluhan pencernaan.










