Kenapa Susu Bisa Bikin Perut Kembung? Begini yang Terjadi di Dalam Usus

Kenapa Susu Bisa Bikin Perut Kembung? Begini yang Terjadi di Dalam Usus

Gaya Hidup | inews | Senin, 31 Agustus 2026 - 16:41
share

JAKARTA, iNews.id – Segelas susu mungkin menjadi minuman yang biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi orang tertentu, minum susu justru bisa membuat perut terasa begah, kembung, banyak gas, mulas, bahkan berujung diare.

Keluhan tersebut bukan sekadar anggapan bahwa perut tidak cocok dengan susu. Salah satu penyebab yang cukup umum adalah intoleransi laktosa, yakni kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa yang merupakan gula alami dalam susu.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di dalam usus setelah seseorang dengan intoleransi laktosa minum susu?

Semua Berawal dari Laktosa

Laktosa merupakan jenis gula yang secara alami terdapat dalam susu dan sejumlah produk olahannya. Agar dapat diserap tubuh, laktosa perlu dipecah menjadi gula yang lebih sederhana.

Proses tersebut membutuhkan bantuan enzim laktase, yang diproduksi di usus halus.

Ilustrasi anak muda minum susu. (Foto: Istimewa)

Pada orang dengan intoleransi laktosa, produksi enzim laktase tidak mencukupi untuk mencerna seluruh laktosa yang masuk. Akibatnya, sebagian laktosa tidak terpecah dan tidak terserap dengan baik di usus halus.

Praktisi kesehatan dr. Farhan Zubedi menjelaskan bahwa kekurangan enzim laktase membuat laktosa akhirnya mencapai usus besar.

"Hal itu terjadi karena di tubuh seseorang kekurangan enzim laktase yang seharusnya mengubah laktosa menjadi glukosa dan juga galaktosa. Kalau laktase ini tidak ada, berarti laktosa tidak bisa dicerna, maka akan sampai ke usus besar," ungkap dr. Farhan dalam laporan MilkLife,

Kenapa Perut Bisa Begah dan Kembung?

Sesampainya di usus besar, laktosa yang tidak tercerna akan berinteraksi dengan bakteri yang memang hidup secara alami di saluran pencernaan. Bakteri tersebut kemudian melakukan fermentasi terhadap laktosa. Proses inilah yang menghasilkan gas.

Penumpukan gas di saluran pencernaan dapat membuat perut terasa penuh, begah, kembung, atau bergas. Pada sebagian orang, kondisi tersebut juga dapat disertai kram atau rasa tidak nyaman di perut.

Dengan kata lain, rasa kembung setelah minum susu pada orang yang intoleran laktosa bukan terjadi karena susu 'mengembang' di dalam perut. Masalahnya berkaitan dengan laktosa yang tidak tercerna dan kemudian difermentasi oleh bakteri di usus besar.

Lalu, Kenapa Bisa Sampai Diare?

Keluhan tidak berhenti pada gas. Laktosa yang tidak tercerna juga dapat menarik air ke dalam usus. Kondisi tersebut membuat kandungan air di dalam usus meningkat sehingga feses menjadi lebih cair.

Pada orang yang sensitif terhadap laktosa, keadaan ini dapat memicu diare setelah mengonsumsi susu atau makanan yang mengandung laktosa.

Itulah sebabnya sebagian orang bisa mengalami pola gejala yang cukup khas: beberapa waktu setelah minum susu, perut mulai terasa penuh dan bergas, kemudian muncul mulas dan keinginan untuk buang air besar, bahkan diare.

Namun, waktu munculnya gejala dan tingkat keparahannya tidak selalu sama pada setiap orang.

Tidak Semua Orang Mengalami Gejala yang Sama

Intoleransi laktosa memiliki tingkat toleransi yang berbeda-beda. Ada orang yang hanya mengalami sedikit kembung setelah minum susu dalam jumlah tertentu. Ada pula yang dapat mengalami sakit perut, banyak gas, atau diare meski mengonsumsi dalam jumlah yang lebih sedikit.

Jumlah laktosa yang dikonsumsi juga dapat memengaruhi munculnya gejala. Karena itu, seseorang belum tentu langsung mengalami masalah setiap kali mengonsumsi produk susu.

Selain itu, respons tubuh juga dapat berbeda bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi bersamaan dan kondisi saluran pencernaan masing-masing.

Apakah Semua Orang yang Kembung Setelah Minum Susu Pasti Intoleran Laktosa?

Belum tentu. Kembung, sakit perut, dan diare merupakan gejala yang dapat disebabkan banyak kondisi. Karena itu, munculnya keluhan setelah minum susu saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami intoleransi laktosa.

Jika keluhan terjadi berulang kali, semakin berat, atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui penyebab sebenarnya.

Intoleransi laktosa juga berbeda dengan alergi susu. Pada intoleransi laktosa, masalah utamanya adalah tubuh tidak mampu mencerna laktosa dengan baik karena kekurangan enzim laktase. Sementara alergi susu berkaitan dengan respons sistem kekebalan tubuh terhadap protein dalam susu.

Tak Harus Berhenti Minum Susu Selamanya

Bagi orang yang mengalami intoleransi laktosa, munculnya kembung atau diare bukan berarti seluruh produk susu harus langsung dihapus dari menu.

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah susu bebas laktosa (lactose-free). Pada produk tersebut, laktosa telah dipecah menjadi gula yang lebih sederhana melalui proses enzimatis sehingga lebih mudah ditoleransi oleh orang yang kesulitan mencerna laktosa.

Pilihan lainnya bergantung pada tingkat toleransi masing-masing orang. Sebagian orang dengan intoleransi laktosa masih dapat mengonsumsi produk yang mengandung laktosa dalam jumlah tertentu tanpa mengalami gejala berat.

Yang tidak kalah penting adalah memastikan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi apabila seseorang mengurangi atau menghindari susu. Susu dan produk olahannya merupakan salah satu sumber protein dan kalsium, sehingga kebutuhan tersebut perlu diperoleh dari sumber makanan lain jika konsumsi susu dibatasi.

Jadi, ketika segelas susu membuat perut terasa begah hingga berujung diare, penyebabnya bisa berada jauh setelah susu meninggalkan lambung.

Pada orang dengan intoleransi laktosa, laktosa yang tidak tercerna dapat mencapai usus besar, difermentasi bakteri hingga menghasilkan gas, sekaligus meningkatkan kandungan air di dalam usus. Kombinasi proses tersebutlah yang kemudian dapat memunculkan kembung, mulas, hingga diare.

Topik Menarik