Kreator Konten Soroti Lulusan Perguruan Tinggi Sulit Cari Kerja: Kita Dipertontonkan Hipokritas
JAKARTA, iNews.id - Kreator konten Lawan Buta Politik, Virdian Aurellio menyoroti sulitnya masyarakat, khususnya lulusan perguruan tinggi, mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Dia mengkritik jabatan strategis seperti komisaris seakan mudah diberikan kepada orang-orang yang dekat dengan kekuasaan.
Kritik tersebut disampaikan Virdian dalam sesi Mahasiswa Bersuara pada gelaran iNews Campus Connect di Kampus Unpad Jatinangor, Rabu (12/8/2026).
Virdian merespons pertanyaan seorang mahasiswa mengenai sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia. Mahasiswa tersebut mempertanyakan apakah terdapat persoalan dalam sistem pendidikan sehingga lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan industri.
Menurut Virdian, persoalan tersebut semakin terasa bagi lulusan perguruan tinggi ternama. Status sebagai alumni kampus papan atas, kata dia, tidak lagi menjadi jaminan seseorang dapat segera memperoleh pekerjaan yang layak.
"Ketika saya lulus sebagai sarjana dari top 10 university, harapannya mudah meniti karier dan beli rumah, tapi faktanya hari ini satu juta sarjana lebih menganggur dan delapan juta lainnya bekerja apa adanya," ujar Virdian.
Dia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan situasi di lingkaran elite kekuasaan. Menurutnya, terdapat kesenjangan antara masyarakat yang harus berjuang mendapatkan pekerjaan dengan mereka yang relatif mudah memperoleh posisi strategis.
Virdian menyinggung jargon Indonesia Emas yang menurutnya perlu dibarengi dengan penyelesaian persoalan lapangan kerja dan berbagai masalah yang dihadapi generasi muda.
Dia juga mempertanyakan kondisi yang dihadapi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi ketika posisi strategis di pemerintahan maupun perusahaan negara dapat diberikan kepada pihak tertentu.
"Kita dipertontonkan hipokritas ketika susah cari kerja tapi banyak orang gampang dapat posisi komisaris, bahkan di sisi lain ada yang tidak punya ijazah bisa menjadi wakil presiden," ucap dia.
Menurut Virdian, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan bagi generasi muda yang telah menempuh pendidikan tinggi dan berusaha mendapatkan pekerjaan melalui proses rekrutmen.
Dia menilai pilihan karier yang tersedia bagi generasi muda juga masih terbatas. Lapangan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahlian, kata dia, belum sebanding dengan jumlah lulusan yang memasuki dunia kerja setiap tahun.
Virdian kemudian menyinggung sejumlah program yang ditawarkan pemerintah sebagai alternatif lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Namun, dia menilai pilihan tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan maupun aspirasi profesional para lulusan perguruan tinggi.
"Ternyata ada lapangan pekerjaan, tapi kita harus latihan militer dulu jadi Komcad atau manajer Koperasi Merah Putih, padahal kalau melamar lewat LinkedIn butuh berbulan-bulan hanya untuk dipanggil wawancara," ucap dia.










