Prabowo Sebut Kekayaan Alam Indonesia Anugerah Sekaligus Tantangan, Ini Penjelasannya
JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia harus memperkuat kewaspadaan menghadapi dinamika global yang kian kompleks. Menurutnya, situasi dunia memang sedang rawan, tetapi tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
"Situasi global sangat rawan, tapi tidak ada gunanya kita panik, tidak ada gunanya kita ketakutan. Tapi juga membuat kita harus lebih sadar. Bertindak, berkata, bertutur kata harus dengan kearifan, harus dengan kebaikan. Kita waspada karena memang kita negara sangat besar, kita negara sangat kaya," ujar Prabowo saat memberikan arahan dalam pertemuan dengan pengusaha Kadin pusat dan daerah di Istana Negara, Jakarta, dikutip, Sabtu (1/8/2026).
Kepala Negara menambahkan, kekayaan sumber daya alam Indonesia merupakan anugerah sekaligus tantangan. Menurutnya, sejak dahulu Nusantara menjadi incaran berbagai bangsa karena memiliki komoditas strategis, seperti rempah-rempah dan kayu.
4 Marketplace Ditunjuk Sebagai Pemungut Pajak Pedagang Online, Ada Tokopedia hingga Shopee
“Jadi kalau mau punya angkutan laut yang kuat, kapal mau berlayar dua minggu, dia perlu rempah-rempah supaya makanan itu tidak busuk dan dia butuh kayu. Kayu-kayu yang cocok untuk di laut ada di Nusantara ini. Jadi mereka semua cari kita di Nusantara ini untuk rempah-rempah dan untuk kayu karena angkutan laut waktu itu kapal-kapalnya dari kayu,” tuturnya.
Prabowo mengingatkan negara atau kawasan yang memiliki sumber daya alam melimpah kerap menghadapi tekanan geopolitik.
Sebagai contoh, Kepala Negara menyinggung konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang menurutnya tidak terlepas dari besarnya cadangan energi dan mineral strategis di kawasan tersebut.
“Ini saya dengan panjang lebar saya tekankan kembali ke saudara-saudara karena apa yang kita bahas sedang terjadi di depan mata kita. Tiap sore, tiap malam kita lihat dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi,” ucapnya.
Prabowo juga mengingatkan bahwa strategi divide et impera atau politik pecah belah bukan sekadar catatan sejarah, melainkan masih relevan dalam dinamika geopolitik saat ini.
“Devide et impera itu bukan tulisan di buku-buku sejarah, itu nyata. Devide et impera nyata,” kata dia.










