49.000 Imigran asal Maroko Seberangi Laut Menuju Spanyol, Bentrokan Pecah

49.000 Imigran asal Maroko Seberangi Laut Menuju Spanyol, Bentrokan Pecah

Terkini | inews | Sabtu, 1 Agustus 2026 - 03:20
share

MADRID, iNews.id - Sekitar 49.000 imigran asal Afrika nekat menyeberangi laut, sebagian dengan berenang, untuk memasuki Eropa melalui Spanyol. Mereka memasuki Ceuta, wilayah kantong Spanyol yang berada di Afrika Utara sejak 2 hari terakhir.

Akibatnya, bentrokan pecah antara pasukan keamanan Maroko dengan para imigran ilegal yang berusaha menyeberang ke Ceuta, Jumat (31/7/2026). Pasukan keamanan Maroko berusaha mencegah para imigran ilegal itu menyeberang.

Kantor berita Anadolu melaporkan, pasukan keamanan Maroko mencegah imigran mendekati pagar perbatasan. Tindakan represif pasukan keamanan dibalas para imigran dengan membakar mobil dan bus di dekat perbatasan.

Pasukan keamanan menahan sejumlah imigran lalu memindahkan mereka ke luar Kota Fnideq, sambil terus mengejar imigran lain yang berusaha mencapai Ceuta.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan, sekitar 49.000 imigran menyeberang ke wilayah tersebut sejak 24 jam sebelumnya.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, didampingi Menteri Dalam Negeri Fernando Grande Marlaska, mengunjungi perbatasan Ceuta pada Jumat.

Spanyol dan Maroko pada Kamis (30/7/2026) sepakat memperkuat koordinasi dan mempercepat pemulangan imigran yang memasuki Ceuta melalui jalur tidak resmi.

Mahkamah Agung Spanyol sebelumnya memutuskan, imigran yang dicegat di laut saat berusaha mencapai Ceuta atau Melilla, berhak secara hukum untuk menjalani sidang pemrosesan formal dan tidak langsung dipulangkan.

Ceuta, kota otonom Spanyol yang berada di pantai Afrika Utara, dikelilingi oleh pagar perbatasan. Kondisi itu mendorong para imigran untuk mencapainya dengan berenang.

Padahal jarak antara pantai di Fnideq dan beberapa titik pantai di dekat Ceuta berkisar antara 2 hingga 3 kilometer.

Imigran dari beberapa negara Afrika, termasuk Maroko, terus berusaha memasuki Ceuta secara ilegal, guna mencari penghidupan lebih baik.

Pada Mei 2024, Dewan Ekonomi Sosial dan Lingkungan Maroko menyatakan, sekitar 1,5 juta anak muda berusia antara 15 hingga 24 tahun di negara itu tidak bekerja, tidak bersekolah, atau tidak mengikuti pelatihan.

Topik Menarik