Pegadaian Pilih Skema Kolaborasi untuk Pengembangan AI, Masih Bayar Lisensi Meta

Pegadaian Pilih Skema Kolaborasi untuk Pengembangan AI, Masih Bayar Lisensi Meta

Terkini | inews | Jum'at, 5 Juni 2026 - 20:12
share

JAKARTA, iNews.id, iNews.id - PT Pegadaian terus mendorong transformasi digital melalui pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, investasi yang dilakukan saat ini masih mengandalkan kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk integrasi dengan sistem milik Meta Platforms.

Kepala Departemen Improvement Layanan Pegadaian, Rivaldi Ligia Priambodo, mengungkapkan bahwa pengembangan AI belum sepenuhnya dilakukan secara mandiri oleh perusahaan.

“Untuk AI, saat ini kami masih bekerja sama dengan pihak ketiga. Sistemnya dikembangkan bersama, lalu diintegrasikan dengan sistem dari Meta, dan kami masih membayar lisensi setiap bulan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (4/6).

Rivaldi menjelaskan, model investasi AI yang digunakan Pegadaian saat ini bersifat kolaboratif. Artinya, perusahaan tidak membangun sistem dari nol secara internal, melainkan memanfaatkan teknologi yang sudah ada dan dikembangkan bersama mitra.

Skema ini dinilai lebih cepat dalam implementasi, terutama untuk mengejar kebutuhan digitalisasi layanan yang semakin mendesak. Namun di sisi lain, terdapat konsekuensi berupa biaya lisensi yang harus dibayarkan secara berkelanjutan.

Meski belum merinci nilai investasi secara pasti, Rivaldi mengakui bahwa pengembangan AI membutuhkan biaya yang cukup besar, baik untuk pengembangan sistem maupun integrasi teknologi.

“Nilai investasinya memang ada, tetapi untuk detailnya kami masih perlu cek lebih lanjut,” katanya.

Dorong Efisiensi Layanan

Penggunaan AI di Pegadaian diarahkan untuk meningkatkan efisiensi layanan, khususnya dalam menangani transaksi digital dan interaksi dengan nasabah. Teknologi ini diharapkan mampu mempercepat proses serta mengurangi potensi kendala operasional.

Namun demikian, implementasi AI juga masih menghadapi tantangan, terutama terkait stabilitas sistem digital yang berdampak langsung pada pengalaman nasabah.

Rivaldi menyebutkan, salah satu keluhan yang masih sering muncul adalah transaksi digital yang mengalami pending. Hal ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan kepercayaan nasabah terhadap layanan berbasis teknologi.

“Transaksi digital yang pending masih menjadi salah satu pengaduan yang sering kami terima,” ujarnya.

Tantangan Ketergantungan Teknologi

Ketergantungan pada pihak ketiga dan sistem eksternal seperti Meta juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan AI. Selain aspek biaya, Pegadaian perlu memastikan integrasi sistem berjalan optimal tanpa mengganggu operasional layanan.

Di sisi lain, penggunaan teknologi dari pihak luar juga menuntut kesiapan internal perusahaan, termasuk dalam hal sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung.

Meski demikian, Rivaldi menegaskan langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pegadaian dalam mempercepat transformasi digital. Ke depan, Pegadaian akan terus mengevaluasi skema investasi AI yang digunakan, termasuk kemungkinan penguatan kapasitas internal agar tidak sepenuhnya bergantung pada pihak ketiga.

Transformasi digital berbasis AI dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing perusahaan di tengah persaingan industri keuangan yang semakin ketat.

Dengan strategi tersebut, Pegadaian berharap dapat menghadirkan layanan yang lebih cepat, akurat, dan responsif terhadap kebutuhan nasabah.

Langkah investasi AI ini sekaligus menunjukkan bahwa Pegadaian tidak hanya fokus pada bisnis konvensional, tetapi juga berupaya beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Namun, keberhasilan implementasinya akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam mengelola kolaborasi teknologi serta meminimalkan kendala yang masih terjadi di lapangan.

Topik Menarik