BI Ungkap 7 Strategi Jaga Rupiah, Intervensi Pasar hingga Batasi Pembelian Dolar AS
IDXChannel - Bank Indonesia (BI) berkomitmen menjaga nilai tukar rupiah yang tengah tertekan hingga ke level Rp14.000 per dolar AS. BI menegaskan saat ini mata uang Garuda jauh di bawah nilai fundamentalnya (undervalued).
Gubernur BI, Perry Warjiyo meyakini rupiah segera stabil dan cenderung menguat sejalan dengan kondisi ekonomi yang resilien. Dia menilai, tekanan jangka pendek yang terjadi pada rupiah disebabkan olek faktor eksternal.
Faktor-faktor tersebutmencakup tingginya harga minyak dunia, lonjakan suku bunga obligasi AS (yield US Treasury) 10 tahun yang mencapai 4,47 persen), serta penguatan dolar AS yang memicu pelarian modal dari pasar negara berkembang. Selain itu, terdapat faktor musiman pada periode April-Juni 2026, yakni tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan jemaah haji.
Warga Lapor Parkir Liar Lewat JAKI Direspons Bukti AI, Pemprov DKI Akui Kesalahan Proses Validasi
"Pertumbuhan (ekonomi) sangat tinggi 5,61 persen, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," ujar Perry usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo merestui tujuh langkah penting yang akan ditempuh bank sentral untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Pertama, BI akan terus melakukan intervensi baik melalui transaksi tunai, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun intervensi di pasar luar negeri (Offshore NDF) seperti di Singapura, London, hingga New York. Kedua, BI mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal masuk (inflow) guna menutupi keluarnya modal asing di pasar SBN dan saham.
Ketiga, dengan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan di mana BI telah membeli SBN dari pasar sekunder sebesar Rp123,1 triliun sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd). Keempat, BI memastikan likuiditas di pasar uang tetap mencukupi, yang tercermin dari pertumbuhan uang primer sebesar 14,1 persen.
Kemudian BI telah menurunkan batas pembelian dolar tanpa dokumen pendukung (underlying) dari 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan, dan berencana menurunkannya kembali menjadi 25 ribu dolar AS. Selain itu, BI mendorong penggunaan mata uang lokal (LCT) melalui pasar Yuan-Rupiah untuk diversifikasi dari dolar.
Keenam, BI membolehkan bank domestik ikut terlibat dalam penjualan Offshore NDF di luar negeri agar pasokan dolar lebih melimpah. Terakhir, BI meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar yang tinggi melalui pengiriman tim pengawas ke lapangan.
Perry secara khusus menyoroti pembatasan pembelian dolar sebagai langkah kunci untuk meredam spekulasi di dalam negeri. Dia menegaskan koordinasi erat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga meski nilai tukar berfluktuasi.
"Yang dulunya USD100 ribu per orang per bulan, kita turunkan USD50 ribu per orang per bulan. Kami persiapkan, kami akan turunkan lagi menjadi USD25 ribu sehingga pembelian dolar AS sampai dengan atau di atas USD25 ribu itu harus pakai underlying," kata Perry.
(Rahmat Fiansyah)










