Keributan di Bokondini Tolikara, 4 Polisi Terluka dan 1 Warga Tewas
TOLIKARA, iNews.id - Keributan di Distrik Bokondini, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan berujung tragis. Empat anggota polisi mengalami luka-luka, sementara satu warga sipil tewas dalam keributan yang terjadi di tengah suasana duka.
Peristiwa ini terjadi di Desa Mairini, Distrik Bokondini, Kabupaten Tolikara, Selasa (14/4/2026). Keributan bermula saat berlangsungnya acara kedukaan atas meninggalnya Denius Penggu.
Kemudian pada pukul 12.45 WIT, terjadi perdebatan antarkeluarga terkait penyebab kematian korban. Perdebatan tersebut memicu ketegangan yang semakin meluas.
Situasi kian memanas ketika massa dari sejumlah kampung datang melayat. Mereka melakukan aksi pelemparan batu hingga penebangan pohon di sekitar lokasi.
Keributan kemudian berubah menjadi bentrokan antarkelompok masyarakat. Warga saling menyerang menggunakan batu, senjata tajam hingga panah.
Mendapat laporan, personel Polsek Bokondini langsung turun ke lokasi sekitar pukul 13.55 WIT. Polisi berupaya melerai bentrokan, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Tembakan peringatan yang dilepaskan justru memicu kemarahan massa.
Akibatnya, aparat kepolisian menjadi sasaran serangan. Anggota diserang menggunakan batu dan senjata tajam hingga terpaksa menyelamatkan diri.
Salah satu anggota, Aiptu Dominggus Gannaran sempat terpisah dari rombongan. Dia mengalami penganiayaan, dan senjata api jenis revolver miliknya dirampas warga diduga punya riwayat gangguan kejiwaan.
Akibat insiden tersebut, empat personel polisi mengalami luka-luka. Sementara satu warga bernama Ereki Wunungga (18) meninggal dunia dan masih dalam proses penyelidikan.
Seusai kejadian, Polres Tolikara langsung mengambil langkah cepat. Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw memimpin penguatan personel dan pengamanan wilayah. Pada Rabu (15/4/2026), aparat menggelar pertemuan dengan tokoh adat, tokoh agama, pemerintah distrik, serta unsur TNI. Pendekatan persuasif dilakukan untuk meredam konflik.
“Kami hadir untuk menjamin keamanan masyarakat. Kami berharap para tokoh dapat membantu berkomunikasi dengan warga agar senjata api tersebut segera dikembalikan,” kata Kapolres.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Senjata api yang sempat dirampas akhirnya dikembalikan oleh warga melalui pendekatan kekeluargaan. Pada pukul 11.33 WIT, satu pucuk revolver beserta enam butir amunisi diserahkan kembali ke Polsek Bokondini.
Kapolres Tolikara mengapresiasi peran tokoh masyarakat dalam menjaga situasi tetap kondusif. Dia menegaskan pentingnya komunikasi dalam menyelesaikan konflik.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tokoh masyarakat. Ini bukti bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan kebersamaan,” ujarnya.
Kini, situasi di Distrik Bokondini berangsur kondusif. Aparat memastikan akan terus mengedepankan pendekatan humanis untuk menjaga keamanan wilayah.










