Kanker Paru Serang Usia 30-40 Tahun, Dokter Ingatkan Bahaya pada Nonperokok

Kanker Paru Serang Usia 30-40 Tahun, Dokter Ingatkan Bahaya pada Nonperokok

Gaya Hidup | inews | Sabtu, 28 Februari 2026 - 02:59
share

JAKARTA, iNews.id – Kanker paru kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Dalam beberapa tahun terakhir, dokter semakin sering mendiagnosis kanker paru pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan merasa dirinya sehat serta aktif. Pergeseran ini mencerminkan perubahan serius dalam lanskap penyakit kanker di Indonesia.

Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre (PCC), dr Tanujaa Rajasekaran menyoroti perubahan profil pasien kanker paru yang semakin beragam. Dia menegaskan, anggapan bahwa kanker paru hanya menyerang perokok berat sudah tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini.

“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” kata dr Tanujaa saat ditemui di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, selama dua dekade terakhir penanganan kanker paru mengalami perubahan besar. Pendekatan yang sebelumnya didominasi kemoterapi kini bergeser menuju terapi yang sangat terpersonalisasi, dengan mempertimbangkan jenis, stadium, hingga profil genetik kanker.

Keputusan terapi kini disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pasien. Pendekatan ini, dokter dapat memilih pengobatan yang lebih tepat sasaran dan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik.

Kemajuan seperti imunoterapi dan terapi radiasi proton turut meningkatkan hasil pengobatan secara signifikan. Imunoterapi bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker, sementara terapi proton memberikan radiasi presisi tinggi langsung ke tumor sehingga meminimalkan kerusakan jaringan sehat di sekitarnya.

Inovasi tersebut tidak hanya meningkatkan angka kelangsungan hidup, tetapi juga menekan efek samping terapi. Banyak pasien usia produktif tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari selama proses pengobatan berlangsung.

"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," ujarnya.

Di sisi lain, tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas kerap dianggap sebagai gangguan pernapasan biasa.

Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui dirinya mengidap kanker paru saat sudah memasuki stadium III atau IV. Pada tahap ini, pengobatan menjadi jauh lebih kompleks dan membutuhkan strategi terapi yang lebih agresif.

"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan. Ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, hal tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien,” kata dr Tanujaa.

Topik Menarik