Tari Jaipong dan Kisah yang Mengikat, Cerita di Balik Gemulai Indah Tarian

Tari Jaipong dan Kisah yang Mengikat, Cerita di Balik Gemulai Indah Tarian

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 27 Februari 2026 - 20:00
share

Di balik keindahan Tari Jaipong, berkembang pula berbagai cerita yang dipercaya sebagian masyarakat. Dalam episode Kata Mereka kali ini, Bang Robby mengulas sisi lain Tari Jaipong yang kerap dikaitkan dengan unsur spiritual dan kepercayaan lokal.

Dalam budaya Sunda, kepercayaan terhadap roh leluhur atau karuhun masih hidup dikalangan masyarakat dan juga dalam berbagai tradisi. Sebelum pementasan besar, khususnya di desa atau acara adat, sering kali dilakukan doa bersama sebagai bentuk penghormatan. Ritual ini dipercaya untuk dapat menjaga kelancaran pertunjukan dan menghindari gangguan yang tidak diinginkan.

Baca juga: Pelet Alami dan Ilmu Pengasihan, Penjelasan Ki Reman di Bisikan Gaib

Para penari pun juga memiliki pantangan yang harus dijaga. Mereka tidak diperbolehkan berkata kasar, bersikap sombong, atau memiliki niat buruk sebelum naik panggung. Pemain gendang sebagai pengiring utama juga dipercaya harus dapat menjaga sikap, karena gendang dianggap memiliki energi tersendiri.

Beberapa cerita menyebutkan bahwa jika pantangan dilanggar, penari bisa mendadak lupa gerakan, merasa tubuhnya berat, bahkan mengalami kesurupan di atas panggung. Ada pula kisah tentang suara gamelan yang tiba-tiba terdengar sumbang tanpa sebab teknis yang jelas.Baca juga: Diskusi Bang Robby dan Ki Reman tentang Pelet, Teluh, dan Pengaruh Energi Spiritual

Bang Robby juga menyinggung legenda tentang selendang merah yang diwariskan turun-temurun di salah satu sanggar Jaipong. Konon, pada awal perjalaannya selendang tersebut dahulu milik seorang ronggeng pada masa kolonial yang meninggal secara misterius setelah pertunjukan besar. Sejak saat itu, muncul cerita bahwa selendang itu menyimpan “energi” dari sang penari yang terakhir kali menggunakannya.

Beberapa penari yang menggunakan selendang ini mengaku gerakannya terasa lebih luwes, seolah ada yang membimbing. Namun terdapat beberapa pantangan yang perlu diperhatikan. Selendang ini jika dipakai tanpa izin atau tanpa doa, justru terasa berat dan membawa gangguan. Bahkan ada yang mengaku melihat bayangan perempuan berambut panjang di cermin ruang rias.

Bang Robby menegaskan bahwa terlepas dari percaya atau tidak, cerita-cerita tersebut lahir dari nilai penghormatan terhadap budaya dan tempat pertunjukan.

“Yang penting bukan soal takut atau tidak, tapi bagaimana kita menjaga sikap dan menghormati ruang,” ujar Robby Purba.

Menurutnya, budaya tidak hanya diwariskan lewat gerakan, tetapi juga lewat etika dan cara kita memperlakukan tradisi itu sendiri.

Saksikan kisah lengkapnya hanya di channel YouTube @robbypurbaofficial.

Topik Menarik