Massa Demo Tandingan di Iran Jauh Lebih Besar, Khamenei: Musuh Gagal!
TEHERAN, iNews.id - Pemerintah Iran mengklaim berhasil merebut kembali kendali situasi keamanan setelah gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang negara itu.
Massa aksi tandingan pendukung pemerintah yang turun ke jalan pada Senin (12/1/2026) jauh lebih besar dibandingkan demonstran anti-pemerintah. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pun menegaskan, upaya musuh asing untuk menggoyang Republik Islam telah gagal.
Demonstrasi tandingan atas seruan pemerintah Iran itu digelar sebagai respons atas unjuk rasa anti-pemerintah yang berlangsung selama berhari-hari di berbagai kota besar. Ribuan hingga ratusan ribu pendukung pemerintah memenuhi jalan-jalan utama, membawa bendera nasional dan poster dukungan terhadap kepemimpinan Iran.
Khamenei memuji besarnya partisipasi massa pro-pemerintah tersebut. Menurutnya, aksi itu menjadi bukti nyata bahwa mayoritas rakyat Iran tidak terpengaruh oleh provokasi dan campur tangan asing.
“Aksi unjuk rasa besar-besaran ini, yang penuh tekad, telah menggagalkan rencana musuh asing yang seharusnya dilakukan tentara bayaran di dalam negeri,” ujar Khamenei.
Dia menambahkan, demonstrasi tandingan itu juga menjadi peringatan tegas bagi Amerika Serikat dan kekuatan luar lain yang dituding berada di balik kerusuhan.
Khamenei menegaskan, unjuk rasa anti-pemerintah bukanlah cerminan suara mayoritas rakyat Iran, melainkan bagian dari skenario yang dirancang untuk melemahkan stabilitas nasional.
“Musuh telah gagal,” kata pemimpin berusia 86 tahun yang telah berkuasa sejak 1989 tersebut.
Di sisi lain, situasi di lapangan tetap memprihatinkan. Lembaga Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan, jumlah korban tewas akibat demonstrasi mencapai 648 orang hingga Senin. Dari angka tersebut, sembilan korban di antaranya adalah anak di bawah umur, sementara ribuan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
IHR juga menyebut lebih dari 10.000 orang ditangkap di berbagai wilayah Iran. Organisasi tersebut memperingatkan bahwa angka korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, bahkan bisa melampaui 6.000 orang, mengingat sulitnya proses verifikasi.
Pemutusan akses internet yang telah berlangsung selama empat hari, menurut pemantauan Netblocks, dinilai sengaja dilakukan untuk membatasi arus informasi dan menutupi tindakan kekerasan aparat keamanan terhadap demonstran.
Kondisi ini membuat pemantauan independen terhadap situasi HAM di Iran menjadi sangat terbatas.
Direktur IHR Mahmood Amiry-Moghaddam menyerukan keterlibatan masyarakat internasional.
“Masyarakat internasional memiliki kewajiban untuk melindungi para demonstran sipil dari pembunuhan massal oleh republik Islam,” katanya, seperti dikutip AFP.
Sementara itu, otoritas Iran menyatakan terus berupaya memulihkan keamanan dan stabilitas nasional. Pemerintah menegaskan, demonstrasi tandingan berskala besar menjadi bukti bahwa negara masih mendapat dukungan kuat dari rakyat, sekaligus menutup babak unjuk rasa anti-pemerintah yang dituding didalangi kekuatan asing.










