Viral Kasus Telur Mentah, IDAI Ingatkan Bayi di Bawah 6 Bulan Belum Butuh MPASI
IDXChannel—Kasus bayi yang meninggal dunia setelah diberi telur mentah menjadi pengingat untuk tidak sembarangan memberikan makanan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa bayi yang di bawah enam bulan belum membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI).
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menjelaskan bahwa pemberian makanan pada bayi harus disesuaikan dengan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan.
IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, ASI dilanjutkan bersama MPASI hingga anak berusia dua tahun atau lebih.
Apabila ASI tidak dapat diberikan atau terdapat indikasi medis tertentu, susu formula bayi dapat digunakan sesuai penilaian dan anjuran tenaga kesehatan.
“Bayi yang belum mendapatkan MPASI tidak memerlukan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, jus, kaldu, maupun bahan makanan yang diencerkan,” demikian penjelasan IDAI dalam pernyataan resminya pada iNews Media Group, Senin (12/10/2026).
Artinya, bayi baru lahir tidak memerlukan tambahan makanan seperti bubur atau telur untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Pemberian asupan juga perlu mengikuti rekomendasi medis sesuai usia bayi.
Menurut IDAI, MPASI secara umum mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan. Pada tahap ini, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui jumlah yang dapat dipenuhi dari ASI saja.
Meski demikian, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau sekitar 17 minggu dalam kondisi tertentu. Keputusan ini bukan rekomendasi rutin, melainkan harus berdasarkan pertimbangan klinis dan penilaian dokter.
Dokter akan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, serta kesiapan perkembangan bayi sebelum merekomendasikan pemberian MPASI lebih awal. Sementara itu, pemberian MPASI sebelum bayi berusia empat bulan tidak dianjurkan.
Kesiapan menerima makanan juga tidak hanya ditentukan oleh usia. Bayi perlu menunjukkan sejumlah kemampuan, seperti mampu mempertahankan posisi kepala dan leher dengan stabil, mempertahankan posisi tubuh dengan bantuan, serta memiliki koordinasi gerakan mulut dan kemampuan menelan makanan.
Selain itu, memberikan makanan sebelum bayi siap berisiko menyebabkan tersedak, aspirasi, dan gangguan pemberian makan. Terkait telur mentah yang diberikan pada bayi, selain belum sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir, telur mentah juga memiliki risiko keamanan pangan.
IDAI mengingatkan bahwa telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella, yang menyebabkan infeksi saluran pencernaan. Gejalanya dapat berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi.
Pada bayi dan anak kecil, infeksi tersebut berpotensi berlangsung lebih berat dan menimbulkan komplikasi serius. Karena itu, IDAI tidak menganjurkan pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak.
Untuk itu, IDAI mengimbau orang tua dan pengasuh untuk mengutamakan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Apabila ASI tidak dapat diberikan, penggunaan susu formula bayi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan indikasi medis.
Orang tua juga dianjurkan berkonsultasi dengan dokter apabila ragu mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, kesiapan bayi menerima makanan, maupun pilihan makanan yang aman.
(Nadya Kurnia)









