AHY Ungkap Ekonomi Digital RI Tembus 100 Miliar Dolar AS, Tapi Kesiapan Teknologi Masih Peringkat 76
JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan potensi ekonomi digital Indonesia mencapai 100 miliar dolar AS. Namun, kesiapan teknologi Indonesia masih berada di peringkat 76 dunia.
Dia menilai pembangunan infrastruktur fisik dan penataan ruang menjadi faktor penting untuk mendukung adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
AHY menegaskan, perkembangan teknologi digital membutuhkan dukungan infrastruktur yang terintegrasi. Implementasi AI tidak cukup hanya mengandalkan perangkat lunak, tetapi juga memerlukan konektivitas, fasilitas komputasi, konteks, dan kompetensi sumber daya manusia.
“Pembangunan kewilayahan dan infrastruktur merupakan physical dan spatial enablers bagi pembangunan digital, sehingga implementasi AI butuh empat fondasi utama, yakni connectivity, compute, konteks, dan kompetensi,” kata AHY dalam acara BMP Digital Infrastructure Summit, di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Dia memaparkan, ekonomi digital Indonesia terus berkembang dengan nilai transaksi mencapai 100 miliar dolar AS, terbesar di Asia Tenggara. Indonesia juga memiliki populasi terbesar keempat di dunia, sementara jumlah pengguna digitalnya menempati posisi keempat secara global.
Meski memiliki pasar digital yang besar, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam kesiapan teknologi mutakhir. Sejumlah aspek yang perlu diperkuat meliputi pemerataan penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), penelitian dan pengembangan (research and development/R&D), aktivitas industri, serta pembiayaan.
“Ekonomi digital kita terbesar di Asia Tenggara dengan nilai 100 miliar dolar AS, tetapi kesiapan teknologi mutakhir masih peringkat 76 sehingga butuh perbaikan ekosistem dan keahlian tenaga kerja lewat penguatan pendidikan hingga human capital readiness,” jelasnya.
Menurut AHY, pemanfaatan digitalisasi dan AI harus memberikan dampak nyata terhadap efisiensi, produktivitas, dan daya saing nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengembangan jaringan digital perlu berjalan beriringan dengan penyediaan energi berkelanjutan serta infrastruktur transportasi darat, laut, dan udara.
Konektivitas transportasi dibutuhkan untuk mendukung rantai pasok logistik, termasuk kegiatan perdagangan elektronik atau e-commerce. Karena itu, koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus didorong untuk menyelesaikan pembangunan jaringan transmisi.
“Setelah kita hadirkan e-commerce, aktivitas itu tetap membutuhkan transportasi darat, laut, dan udara, sekaligus membutuhkan investasi besar untuk menggelar submarine cables, fiber optic, hingga mobile networks,” ujar AHY.
Selain jaringan transmisi, pengembangan AI memerlukan fasilitas komputasi berkapasitas tinggi dan infrastruktur pusat data yang andal. Fasilitas tersebut dibutuhkan untuk memproses data dalam jumlah besar dengan cepat.
Namun, pembangunan pusat data juga menghadirkan tantangan dari sisi kebutuhan energi. AHY mengingatkan, pemerintah perlu memperhitungkan dampak lingkungan serta kebutuhan sumber daya dasar sebelum membangun fasilitas komputasi berskala besar.
“Data center memakan energi dalam jumlah luar biasa besar sehingga harus dihitung cermat agar tidak menimbulkan masalah lingkungan, apalagi sampai berkompetisi dengan pemenuhan air bersih masyarakat,” kata AHY.








