Pasar Cermati Reshuffle Kabinet, IHSG Diproyeksikan Fluktuatif Uji Level 6.000

Pasar Cermati Reshuffle Kabinet, IHSG Diproyeksikan Fluktuatif Uji Level 6.000

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 2 Oktober 2026 - 08:30
share

IDXChannel - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diproyeksikan bergerak fluktuatif dalam rentang konsolidasi. Hal ini seiring langkah pelaku pasar yang masih mencermati arah kepastian kebijakan ekonomi pasca reshuffle kabinet.

Sentimen politik domestik tersebut berbarengan dengan tekanan eksternal dan pergerakan nilai tukar rupiah yang masih tertahan. 

Di sisi lain, sentimen pergantian pejabat tersebut juga masih bersamaan dengan tekanan arus keluar modal asing serta lonjakan harga komoditas energi global.

"IHSG masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil karena pasar membutuhkan waktu untuk mencerna dampak reshuffle kabinet yang cukup besar. Pelemahan indeks tidak bisa semata-mata dibaca sebagai respons negatif terhadap menteri baru, melainkan kombinasi ketidakpastian arah kebijakan, depresiasi rupiah, arus modal asing yang keluar, serta lonjakan harga minyak dunia yang mendekati level USD100 per barel," kata Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana kepada IDX Channel, Jumat (2/10/2026).

Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, IHSG terpangkas 1,02 persen ke posisi 6.009,50 setelah sempat terperosok ke kisaran 5.900 sebelum akhirnya kembali tertahan di atas batas psikologis 6.000.

Pelemahan indeks diiringi koreksi nilai tukar rupiah sebesar 0,40 persen ke level Rp17.966 per USD, serta aksi jual bersih (net sell) pemodal asing senilai Rp240 miliar yang mempertebal akumulasi net sell nonresiden di pasar reguler sepanjang tahun berjalan menjadi sekitar Rp107,4 triliun.

Di mata pelaku pasar modal, kata Hendra, pergantian komposisi pembantu Presiden bukan sekadar pergantian figur pengisi pos kementerian teknis. Fokus utama para pengelola dana kini tertuju pada jaminan kepastian regulasi sektoral dan koordinasi antarotoritas pengambil kebijakan fiskal maupun moneter.

"Pasar melakukan penilaian bukan hanya berdasarkan siapa yang masuk dan keluar, tetapi terutama terhadap kepastian kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli, BUMN, hingga koordinasi pemerintah dengan Bank Indonesia. Dalam jangka sangat pendek, perubahan besar ini memang meningkatkan ketidakpastian, sehingga pasar menunggu seberapa cepat pemerintah memberikan sinyal kebijakan yang jelas dan terkoordinasi," ujarnya.

Menilik indikator pergerakan hari ini, ujar Hendra, posisi indeks di level 6.000 memegang peranan penentu untuk menahan laju koreksi lanjutan setelah empat hari bursa tertekan beruntun. Jika batas psikologis tersebut tertembus kembali ke bawah, pasar saham domestik dibayangi risiko pelemahan menuju batas bawah di level 5.900.

Hendra menerangkan, secara teknikal, pergerakan indeks komposit hari ini bakal diuji oleh ketahanan level psikologis yang sempat tersentuh pada perdagangan sebelumnya. Peluang pembalikan arah jangka pendek terbuka lebar, kendati ruang penguatan tersebut diproyeksikan belum mengubah tren pelemahan secara struktural.

"Level 6.000 menjadi area psikologis yang sangat krusial, di mana peluang technical rebound tetap terbuka setelah empat hari perdagangan beruntun terkoreksi. Namun jika level 6.000 kembali ditembus ke bawah, pasar patut mewaspadai pelemahan ke 5.900, sedangkan untuk mengonfirmasi pemulihan tren, indeks harus mampu menembus area 6.100 hingga 6.150 dengan dukungan volume transaksi yang solid," kata dia.

Dari panggung global, dinamika harga minyak mentah jenis Brent yang mendekati USD100 per barel menjadi ancaman nyata bagi stabilitas makroekonomi dalam negeri. Lonjakan beban impor minyak mentah tidak hanya berisiko mengerek inflasi, tetapi juga menyedot cadangan devisa yang berujung pada pelemahan rupiah lanjutan.

Risiko eksternal dari lonjakan komoditas energi global kian mempersempit ruang gerak otoritas moneter dalam melonggarkan likuiditas di pasar keuangan domestik. Kondisi ini membuat sentimen positif dari potensi pelonggaran suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) belum mampu direspons maksimal oleh bursa saham lokal.

"Harga minyak Brent yang kembali mendekati USD100 per barel memperbesar kebutuhan dolar untuk impor energi dan menekan rupiah, sehingga membatasi ruang Bank Indonesia melonggarkan kebijakan moneter demi menjaga stabilitas kurs. Akibatnya, ekspektasi pelonggaran The Fed belum otomatis menguntungkan pasar saham domestik karena persepsi investor asing dan valuasi modal sangat sensitif terhadap nilai tukar rupiah serta yield obligasi," ujar Hendra.

Menurut dia, koreksi IHSG kemarin juga memperlihatkan anomali tersendiri di kawasan regional, mengingat sebagian besar bursa Asia justru membukukan penguatan. Realitas tersebut menegaskan bahwa dinamika domestik memegang kendali paling dominan terhadap fluktuasi indeks saat ini.

Perbedaan arah pergerakan dengan mayoritas bursa regional Asia memperlihatkan bahwa pemulihan pasar saham domestik menuntut kepastian dari dalam negeri. Oleh sebab itu, para pemodal diimbau untuk tidak terburu-buru mengambil risiko spekulatif di tengah fase transisi susunan kementerian.

"Kunci pemulihan IHSG bertumpu pada tiga hal, yakni stabilitas rupiah, pembalikan arah arus dana asing dari net sell Rp107,4 triliun sepanjang tahun berjalan, serta kepastian kebijakan pasca-reshuffle. Investor sebaiknya tidak terburu-buru menganggap rebound sebagai awal bull market baru, melainkan lebih rasional mencermati saham berfundamental kokoh, likuiditas tinggi, dan valuasi wajar sambil menunggu tekanan pasar mereda," kata dia.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik