Bursa Asia Tertekan, Nikkei dan Kospi Kompak Tergelincir

Bursa Asia Tertekan, Nikkei dan Kospi Kompak Tergelincir

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:30
share

IDXChannel - Bursa saham Asia melemah pada Selasa (25/8/2026), sementara harga minyak melanjutkan penurunan setelah ancaman Amerika Serikat (AS) untuk menerapkan "D-Day ekonomi" berupa sanksi terhadap Iran ternyata tidak menghasilkan langkah konkret seperti yang dikhawatirkan pasar.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun dari level tertinggi baru-baru ini setelah muncul laporan bahwa Departemen Keuangan AS berpotensi menggunakan saldo kasnya untuk membiayai peningkatan pembelian kembali obligasi.

Langkah tersebut dapat mengurangi kebutuhan pemerintah untuk menerbitkan tambahan surat utang berjangka pendek.

Di sektor teknologi, perhatian investor tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang akan dirilis pada Rabu (26/8/2026).

Ekspektasi terhadap kinerja perusahaan chip tersebut sangat tinggi, sehingga investor menyadari tantangan Nvidia untuk kembali memenuhi target pasar.

Analis secara umum memperkirakan pendapatan kuartalan Nvidia hampir dua kali lipat menjadi sekitar USD92 miliar.

Sementara itu, proyeksi laba setahun penuh berada di kisaran USD103 miliar hingga USD105 miliar.

"Ekspektasinya memang sangat tinggi untuk dipenuhi," kata analis pasar di IG, Fabien Yip, seperti dikutip Reuters.

Menurut Yip, melihat rekam jejak Nvidia, bukan hal yang mengejutkan apabila perusahaan mampu memenuhi angka utama yang diproyeksikan pasar.

Namun, investor kini lebih ingin mengetahui apakah terdapat kekhawatiran mengenai transaksi sirkular yang menopang pertumbuhan Nvidia serta apakah tingkat pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan dalam beberapa kuartal mendatang.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,5 persen. Indeks Nikkei Jepang melemah 0,9 persen, sementara Kospi Korea Selatan merosot 2,7 persen.

Di China, Shanghai Composite turun 0,65 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,08 persen.

Sentimen sektor teknologi juga terbebani langkah Alibaba yang meluncurkan penjualan saham senilai USD10,2 miliar dengan diskon besar untuk mendanai ambisi pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Investor juga kecewa terhadap rencana pengembalian modal kepada pemegang saham dari Samsung Electronics.

Di bursa AS, kontrak berjangka (futures) Nasdaq turun 0,08 persen, sedangkan S&P 500 futures bergerak datar. Futures EUROSTOXX 50 turun tipis 0,05 persen.

Pada Senin (24/8), pemerintahan Presiden Donald Trump memperingatkan negara-negara untuk mengurangi hubungan bisnis dengan Iran atau menghadapi sanksi sekunder.

Washington menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari "D-Day ekonomi". Namun, Departemen Keuangan AS pada akhirnya tidak langsung menjatuhkan sanksi kepada pihak mana pun.

Harga minyak merespons negatif pengumuman tersebut dan relatif stabil pada Selasa setelah sebelumnya anjlok lebih dari 2 persen dalam perdagangan Senin.

Harga minyak Brent turun 0,1 persen menjadi USD92,08 per barel. Sementara minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik tipis 0,1 persen menjadi USD85,09 per barel.

Ahli strategi Commonwealth Bank of Australia, Joseph Capurso, mengatakan pihaknya tidak memperkirakan China, yang merupakan mitra dagang terbesar Iran, akan mengikuti tekanan AS untuk menghentikan perdagangan dengan Teheran.

"Kampanye AS terhadap Iran berisiko mengganggu gencatan dagang antara AS dan China menjelang pertemuan para pemimpin kedua negara bulan depan," ujarnya.

Meski demikian, ancaman untuk memutus akses terhadap sistem keuangan berbasis dolar AS memicu spekulasi bahwa sejumlah negara dan bank mungkin perlu meningkatkan pembelian dolar sebagai langkah antisipasi.

Kondisi tersebut memberikan dukungan terhadap mata uang dolar AS di tengah tekanan pasar global. (Aldo Fernando)

Topik Menarik