Harga Emas Tembus Level Tertinggi Lebih dari 3 Bulan, Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Harga Emas Tembus Level Tertinggi Lebih dari 3 Bulan, Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:30
share

IDXChannel - Harga emas dunia naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada Senin (24/8/2026), didorong aksi beli teknikal setelah reli yang dipicu pengumuman pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) dan pelemahan dolar AS.

Harga emas spot naik 1,05 persen menjadi USD4.651,24 per troy ons, setelah sempat menyentuh USD4.680,70 per troy ons. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 14 Mei 2026.

"Fundamental dan teknikal emas kini sama-sama menunjukkan sinyal bullish untuk mengawali perdagangan pekan ini," kata analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff, dikutip Reuters.

Menurut Wyckoff, imbal hasil obligasi juga telah stabil dan bahkan sedikit menurun pada Senin, sehingga turut memberikan dukungan bagi harga emas.

Dengan tren harga yang masih menguat, Wyckoff menilai ruang pergerakan emas dalam beberapa pekan ke depan masih cenderung bergerak sideways hingga naik, selama belum muncul sinyal pembalikan teknikal.

Momentum penguatan emas semakin solid setelah harga menembus rata-rata pergerakan 200 hari pada pekan lalu. Kondisi tersebut memperkuat momentum kenaikan emas di pasar.

Selain faktor teknikal, permintaan dari produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas juga meningkat. Menurut World Gold Council, ETF emas mencatat arus masuk sebesar 46,7 ton atau senilai sekitar USD6,4 miliar pada pekan lalu.

Angka tersebut menjadi arus masuk mingguan terbesar dalam 10 bulan, dengan ETF yang terdaftar di Amerika Utara dan Eropa menjadi penyumbang utama.

Harga emas telah melonjak lebih dari 5 persen pada pekan lalu setelah rencana dukungan melalui pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS mendorong dolar ke level terendah dalam beberapa bulan.

Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar AS, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut.

Dari sisi geopolitik, pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan perluasan sanksi sekunder yang dapat dikenakan terhadap entitas dan negara yang tetap menjalin hubungan bisnis dengan Iran di berbagai belahan dunia.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed), pada Rabu (26/8) waktu setempat.

Pasar juga menantikan pidato perdana Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Jackson Hole Symposium pada Jumat (28/8). Pidato tersebut dinilai penting untuk melihat arah kebijakan suku bunga AS ke depan.

Selain itu, pasar akan mencermati sejumlah pidato pejabat kebijakan di AS dan Jepang sepanjang pekan ini. (Aldo Fernando)

Topik Menarik