Mirae Asset Sekuritas Sebut Valuasi Murah dan Status MSCI Jadi Penopang Pasar Saham Semester II-2026

Mirae Asset Sekuritas Sebut Valuasi Murah dan Status MSCI Jadi Penopang Pasar Saham Semester II-2026

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 21 Juli 2026 - 18:20
share

IDXChannel – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai setelah fase rebound, arah pasar saham Indonesia pada semester II-2026 akan ditentukan oleh kondisi makroekonomi global, valuasi saham yang semakin menarik, serta tetap terjaganya status Indonesia sebagai Emerging Market dalam indeks MSCI.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar saham Indonesia.

Namun, setelah fase technical rebound, perhatian investor akan semakin tertuju pada kualitas fundamental ekonomi, arah kebijakan moneter global, serta kemampuan emiten menjaga pertumbuhan kinerja.

"Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung," ujar Rully dalam paparannya, Selasa (21/7/2026).

Menurut Rully, tantangan utama pasar pada semester II-2026 masih berasal dari kebijakan moneter global. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember 2026 sehingga kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) diperkirakan masih berlanjut.

"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," jelasnya.

Sejalan dengan kondisi tersebut, Mirae Asset Sekuritas Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8 persen pada 2026 dan 4,9 persen pada 2027, dari proyeksi sebelumnya masing-masing 5,0 persen dan 5,1 persen, seiring melemahnya permintaan domestik, kondisi eksternal yang kurang kondusif, serta kebijakan moneter global yang masih ketat. Inflasi diperkirakan mencapai 4,0 persen pada 2026 sebelum kembali ke kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5 persen – 3,5 persen pada 2027.

Meski demikian, Rully menilai peluang investasi tetap terbuka. Stabilitas nilai tukar rupiah, musim laporan keuangan emiten kuartal II, serta kepastian arah kebijakan dinilai dapat menopang pemulihan pasar secara bertahap pada semester kedua tahun ini.

"Kami tetap mempertahankan BBCA sebagai top pick di sektor perbankan. Selain itu, kami juga merekomendasikan BRIS, ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan INKP sebagai saham pilihan yang memiliki fundamental kuat dan prospek yang menarik di tengah dinamika pasar saat ini," tambahnya.

Sementara itu, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin mengatakan keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market menjadi katalis positif yang mengurangi ketidakpastian pasar, meskipun masih dalam masa pemantauan hingga November nanti.

"Status Indonesia sebagai Emerging Market tetap terjaga, meski bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4 persen pada Juni 2026 dari 1,2 persen pada akhir 2025, seiring berkurangnya kepemilikan investor asing dan arus keluar dana dari pasar saham Indonesia," ujar Wilbert.

Menurutnya, sebelum keputusan tersebut diumumkan, pasar sempat mengantisipasi risiko reklasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market yang berpotensi memicu arus keluar dana bersih hingga sekitar Rp80 triliun. Dengan status Emerging Market yang tetap dipertahankan, risiko tersebut pun mereda, meski upaya menarik kembali aliran dana asing masih menjadi tantangan.

"Net outflow asing masih didominasi dana yang mengacu pada indeks (index.tu dekade dan potensi unfreeze inklusi index MSCI ke depannya, peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik tetap terbuka," jelasnya.

Wilbert menambahkan, perhatian investor pada semester kedua akan semakin tertuju pada kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan daya tarik pasar modal, serta mendorong pertumbuhan laba emiten.

"Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pasar saham Indonesia pada semester kedua 2026," tutup Wilbert.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Topik Menarik