Nada Hawkish Menguat, Pejabat The Fed Makin Kompak Dukung Kenaikan Suku Bunga
IDXChannel - Presiden Federal Reserve (The Fed) Cleveland Beth Hammack mengungkap suara hawkish dalam kelompok pembuat kebijakan, menambah deretan pejabat yang berpendapat kenaikan suku bunga perlu dilakukan untuk menekan inflasi yang masih tinggi.
Hal ini memicu perdebatan sengit menjelang rapat The Fed berikutnya dan membuka kemungkinan munculnya perbedaan pendapat (dissent) pada rapat kedua di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh.
“Untuk pertama kalinya selama masa jabatan saya, saya mendengar dari kalangan pelaku usaha yang mengatakan bahwa kami perlu mengambil tindakan untuk menekan inflasi, serta dari konsumen yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dan merasakan keputusasaan yang semakin besar,” kata Hammack, dilansir Reuters, Sabtu (18/7/2026).
Hammack bergabung dengan The Fed pada 2024 setelah bank sentral mengakhiri rangkaian kenaikan suku bunga agresif untuk mengendalikan lonjakan inflasi pascapandemi.
Hammack menambahkan, inflasi masih terlalu tinggi. Sementara itu, pasar tenaga kerja berada di sekitar tingkat yang dia anggap kuat.
Dia mengatakan inflasi inti, yang diukur menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (core Personal Consumption Expenditures/PCE), kemungkinan naik 3,3 persen pada Juni.
“Inflasi yang tetap tinggi dalam jangka panjang merupakan kekhawatiran yang lebih besar,” kata Hammack, yang tahun ini memiliki hak suara dalam penentuan kebijakan The Fed dan pada April lalu menyampaikan dissent karena dia bersama dua rekannya menilai kebijakan saat itu terlalu akomodatif.
Komentar bernada hawkish tersebut menutup rangkaian pernyataan para pejabat The Fed sepanjang pekan ini. Mereka sama-sama menyampaikan kekhawatiran terhadap kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah serta tekanan harga yang meningkat karena pesatnya pembangunan pusat data terkait kecerdasan buatan (AI).
Pada Kamis, Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, yang juga menyampaikan dissent bersama Hammack pada rapat April, mengatakan dalam sebuah acara di Houston bahwa situasi saat ini memerlukan kenaikan suku bunga secara moderat.
Sementara itu, Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson, yang biasanya berhati-hati dalam menyampaikan pandangan kebijakan, mengatakan kepada audiens di Stanford University bahwa jika inflasi tidak segera mendingin, maka mungkin sudah tepat untuk mempertimbangkan kembali arah kebijakan saat ini.
Pelaku pasar kontrak berjangka suku bunga kini memperkirakan peluang sekitar 15 persen The Fed menaikkan suku bunga pada Juli. Peluang tersebut meningkat menjadi sekitar 65 persen untuk rapat berikutnya pada September.
“Kami menilai para pejabat yang bersikap hawkish kini berbicara secara serempak untuk memastikan The Fed menindaklanjuti sikap keras Warsh dan benar-benar menaikkan suku bunga pada September jika dua data inflasi berikutnya selama musim panas tetap tinggi dan konflik AS-Iran terus mendorong kenaikan harga minyak serta ekspektasi inflasi secara berkelanjutan,” tulis analis Evercore ISI, Krishna Guha.
Namun, tidak semua pejabat The Fed yang berbicara pekan ini sama-sama menyoroti risiko kenaikan inflasi.
Presiden The Fed New York John Williams, misalnya, mengatakan dia meyakini inflasi yang masih tinggi segera mereda. Dia menyebut sedikitnya enam alasan, termasuk tidak adanya tekanan pertumbuhan upah dari pasar tenaga kerja serta keyakinannya bahwa inflasi biaya perumahan akan terus melambat.
Sementara itu, Warsh, yang pada rapat pertamanya sebagai pemimpin The Fed bulan lalu menahan suku bunga, memilih tetap bungkam.
Menurut Warsh, tidak tepat, bahkan bisa berdampak buruk jika dia memberi sinyal kepada publik mengenai bagaimana data ekonomi yang akan datang akan memengaruhi keputusan suku bunga yang akan diambilnya.
Di sisi lain, Gubernur The Fed Christopher Waller, berpendapat menjelaskan kepada publik bagaimana data memengaruhi pengambilan keputusan The Fed menjadi bagian penting dari tugas bank sentral, mengisyaratkan bahwa perlambatan inflasi tersebut belum cukup meyakinkannya.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pekan ini bahwa inflasi harga konsumen melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni, dengan kenaikan tahunan sebesar 3,5 persen, meski masih tergolong tinggi, setelah melonjak 4,2 persen pada Mei.
(NIA DEVIYANA)










