Saham Bank dan Tambang Ini Paling Banyak Dilepas Asing Sepekan

Saham Bank dan Tambang Ini Paling Banyak Dilepas Asing Sepekan

Ekonomi | idxchannel | Minggu, 28 Juni 2026 - 10:44
share

IDXChannel - Tekanan jual investor asing membayangi pergerakan saham domestik sepanjang perdagangan sepekan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran aksi jual asing, di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi cukup dalam.

Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir di level 5.896,13 atau turun 1,72 persen pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Dalam sepekan, IHSG tercatat terkoreksi tajam 4,55 persen.

Investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp3,19 triliun di pasar reguler sepanjang pekan perdagangan tersebut.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham perbankan menjadi emiten yang paling banyak dilepas investor asing.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat tekanan jual asing terbesar dengan net sell mencapai Rp951,08 miliar. Harga saham BMRI ditutup di level Rp3.990 per unit pada Jumat (26/6/2026) atau melemah 7,42 persen dalam sepekan.

Selain BMRI, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga mengalami aksi jual asing sebesar Rp405,35 miliar. Saham BBRI berakhir di level Rp2.870 per unit, turun 2,05 persen secara mingguan.

Tekanan jual asing juga terjadi pada saham konglomerasi dan sektor komoditas. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat net sell asing Rp272,81 miliar, dengan harga saham terkoreksi 12,86 persen dalam sepekan menjadi Rp1.795 per unit.

Sementara itu, saham tambang emas PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat jual bersih asing Rp219,25 miliar. Saham EMAS melemah paling dalam di antara daftar tersebut, yakni turun 16,38 persen dalam sepekan ke level Rp6.125 per unit.

Saham tambang batu bara PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga masuk dalam daftar saham yang paling banyak dijual asing dengan nilai Rp202,21 miliar. Meski demikian, harga saham AADI masih mampu menguat 2,22 persen sepanjang pekan ke level Rp8.050 per unit.

Berikutnya, saham emas-tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat net sell asing sebesar Rp199,07 miliar. Saham AMMN terkoreksi 12,57 persen dalam sepekan menjadi Rp3.340 per unit.

Aksi jual asing juga terjadi pada saham berkapitalisasi besar lainnya seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan net sell Rp183,76 miliar. Harga saham TLKM turun 3,88 persen menjadi Rp2.480 per unit.

Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat jual bersih asing Rp158,90 miliar, dengan harga saham melemah 9,54 persen ke level Rp3.320 per unit. Sementara saham PT Astra International Tbk (ASII) mencatat net sell asing Rp153,89 miliar dan turun 1,04 persen menjadi Rp4.760 per unit.

Saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat net sell asing Rp144,12 miliar. Namun, berbeda dengan saham lain, harga KLBF justru menguat 12,86 persen sepanjang pekan ke level Rp790 per unit.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, tekanan jual masih membayangi pergerakan IHSG setelah indeks gagal menembus level resistance 6.100. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya konsolidasi dalam jangka pendek.

Dalam analisisnya, BRI Danareksa Sekuritas menyebut area 5.730-5.850 menjadi level support terdekat yang perlu dipertahankan. Sementara itu, IHSG menghadapi resistance pada kisaran 6.000-6.130.

Dari sisi sentimen, pasar saham global dan domestik masih dibayangi meningkatnya risiko geopolitik.

Laporan mengenai serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global, yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi.

Sementara dari Amerika Serikat (AS), data Core Personal Consumption Expenditures (PCE) Mei menunjukkan kenaikan 0,3 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan.

Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga tinggi atau higher for longer masih akan dipertahankan oleh The Federal Reserve.

Di sisi lain, sentimen terhadap sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), mulai membaik setelah laporan keuangan Micron Technology menunjukkan kinerja yang solid.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah yang kembali mendekati level Rp18.000 per USD menjadi perhatian investor.

BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan eksternal tersebut masih berpotensi membatasi aliran dana asing ke pasar saham domestik.

Investor juga mulai mencermati rangkaian penawaran umum perdana saham (IPO) yang dijadwalkan berlangsung pada awal Juli.

Aksi korporasi tersebut berpotensi menyerap sebagian likuiditas pasar dalam jangka pendek sehingga dapat memengaruhi pergerakan IHSG. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik