Harga CPO Turun Sepekan, Tertekan Data Ekspor dan Melemahnya Minyak Kedelai
IDXChannel - Harga minyak kelapa sawit (CPO) Malaysia melemah pada akhir pekan, sekaligus mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut di tengah tekanan dari sisi eksternal dan permintaan.
Pada perdagangan Jumat (17/4/2026), kontrak berjangka CPO turun 1,00 persen ke 4.450 ringgit Malaysia per ton. Secara mingguan, harga terkoreksi sekitar 1,94 persen.
Pelemahan ini dipicu oleh turunnya harga minyak kedelai di pasar Chicago serta kinerja ekspor yang masih lesu.
Mengutip Trading Economics, data surveyor kargo menunjukkan pengiriman periode 1-15 April anjlok lebih dari 34 persen secara bulanan, seiring permintaan musiman yang belum pulih.
Sentimen negatif juga datang dari pasar energi. Penurunan tajam harga minyak dunia pada Jumat, dipicu meredanya ketegangan di Timur Tengah dan dibukanya kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, turut menekan harga CPO.
Melemahnya harga minyak mentah membuat CPO kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Sebagai gambaran, harga minyak global anjlok signifikan sepanjang pekan ini.
Minyak Brent turun 9,07 persen ke USD90,38 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 11,45 persen ke USD83,85 per barel pada Jumat. Kedua acuan tersebut bahkan ditutup di level terendah sejak 10 Maret, menurut Dow Jones Market Data.
Meski demikian, penurunan harga CPO tertahan oleh pelemahan nilai tukar ringgit serta penguatan harga minyak nabati di bursa Dalian, China.
Dari sisi permintaan, prospek mulai membaik. Pembelian dari India, konsumen terbesar dunia, diperkirakan meningkat setelah impor pada Maret turun 19 persen ke level terendah dalam tiga bulan.
Sementara itu, faktor pasokan masih memberikan dukungan. Persediaan CPO tercatat turun untuk bulan ketiga berturut-turut hingga mencapai level terendah dalam tujuh bulan terakhir.
Di sisi lain, konsumsi biodiesel berbasis sawit di Malaysia diproyeksikan meningkat lebih dari 300.000 ton per tahun, menurut Malaysian Palm Oil Board (MPOB), seiring langkah pemerintah memperluas mandat pencampuran bahan bakar guna mengurangi ketergantungan pada impor energi.
Perkembangan terbaru, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat membukanya untuk lalu lintas non-militer.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah kendali militer ketat hingga kebebasan penuh pelayaran bagi kapal-kapal Iran dipulihkan.
Keputusan ini diambil dengan alasan Washington belum mencabut blokade lautnya serta masih melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan pembajakan”, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera. (Aldo Fernando)









