Trio Saham Bank Besar Jadi Sasaran Jual Asing Sepekan
IDXChannel - Investor asing masih agresif melepas saham di pasar domestik sepanjang sepekan terakhir, dengan total jual bersih mencapai Rp2,40 triliun di pasar reguler.
Aksi ini terutama menyasar saham-saham unggulan, terutama kelompok perbankan besar.
Di posisi teratas, bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell terbesar yakni Rp1,09 triliun, meski harga sahamnya masih naik 1,18 persen sepekan ke Rp3.430 per unit.
Disusul bank milik Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell Rp995,23 miliar dan koreksi 4,10 persen ke Rp6.425 per unit, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang dilepas Rp562,14 miliar dengan penurunan 1,07 persen ke Rp4.620 per unit.
Selain sektor perbankan, tekanan jual juga terlihat pada saham-saham yang berada dalam lingkaran konglomerasi.
Dari Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dilepas Rp554,74 miliar dengan kenaikan tipis 0,81 persen, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat net sell Rp125,52 miliar.
Dari Grup Barito, PT Petrosea Tbk (PTRO) masuk daftar dengan net sell Rp174,87 miliar, meski harga melonjak 15,35 persen sepekan. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga dilepas Rp74,04 miliar dan justru melesat 16,45 persen.
Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dari kelompok Salim mencatat net sell Rp95,47 miliar dengan kenaikan 2,30 persen, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dilepas Rp183,54 miliar meski harganya melonjak 9,70 persen.
Menariknya, di tengah derasnya aksi jual asing tersebut, pasar saham domestik justru bergerak menguat.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 2,35 persen sepanjang pekan dan ditutup di level 7.634,00, ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar milik konglomerat, terutama dari Grup Barito.
Dari sisi global, sentimen pasar juga cenderung positif. Harga minyak dunia turun tajam setelah Iran memastikan Selat Hormuz tetap terbuka selama masa gencatan senjata, sehingga meredakan kekhawatiran pasokan energi.
“Penurunan harga minyak menjadi penggerak utama seluruh pergerakan pasar,” kata Managing Director Global Rates Trading di Mischler Financial Group, Tom di Galoma, dikutip Reuters.
“Apakah kita benar-benar akan melihat gencatan senjata yang berkepanjangan dan pembukaan kembali selat? Saya belum yakin. Prosesnya tampaknya masih butuh waktu untuk benar-benar tuntas. Namun untuk saat ini, itulah yang sedang terjadi. Semuanya dipicu oleh kabar-kabar positif dari kawasan Teluk,” ujar Tom.
Penurunan harga minyak ini diikuti reli bursa saham global, dengan indeks utama S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan baru.
Koreksi harga energi juga menurunkan tekanan inflasi dan mendorong penguatan obligasi pemerintah AS, tercermin dari turunnya imbal hasil US 10-year Treasury yield.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS akibat meredanya premi risiko geopolitik turut memberi ruang bagi aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.
Perkembangan terbaru, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat membukanya untuk lalu lintas non-militer.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah kendali militer ketat hingga kebebasan penuh pelayaran bagi kapal-kapal Iran dipulihkan.
Keputusan ini diambil dengan alasan Washington belum mencabut blokade lautnya serta masih melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan pembajakan”, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









