Harga Minyak Dunia Jatuh ke Level Terendah 5 Pekan
IDXChannel - Harga minyak dunia mencatat penurunan tajam sepanjang pekan ini, seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sempat dibukanya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, sebelum kembali ditutup.
Pada perdagangan Jumat (17/4/2026), kontrak berjangka (futures) minyak mentah Brent turun 9,07 persen ke USD90,38 per barel, setelah sempat menyentuh level terendah harian di USD86,09.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) ambles lebih dalam, turun 11,45 persen ke USD83,85 per barel, setelah sempat jatuh ke USD80,56.
Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak awal April. Baik patokan harga minyak AS maupun global ditutup di level terendah sejak 10 Maret, menurut Dow Jones Market Data.
Secara mingguan, kontrak WTI mencatat penurunan 13,2 persen, sekaligus menjadi koreksi dua pekan terbesar sejak April 2020.
Sementara itu, Brent untuk kontrak Juni turun lebih moderat sebesar 5,1 persen sepanjang pekan.
Tekanan utama datang dari pernyataan Iran yang memastikan seluruh kapal komersial dapat melintasi Selat Hormuz selama periode gencatan senjata.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bahkan menyebut Iran telah sepakat untuk tidak lagi menutup jalur vital tersebut di masa depan.
Seorang pejabat senior Iran juga menyatakan bahwa pelayaran tetap diperbolehkan dengan koordinasi bersama Garda Revolusi Iran, sementara pencairan dana Iran menjadi bagian dari kesepakatan yang tengah dibahas.
Analis Gelber & Associates menilai pasar kini tengah mengurai premi risiko yang sebelumnya melonjak akibat konflik.
“Pasar dengan cepat melepas premi risiko ekstrem dalam dua pekan terakhir. Harga minyak kini kembali mencerminkan normalisasi arus pasokan, bukan lagi risiko gangguan,” tulis mereka dalam riset.
Data pelacakan kapal menunjukkan sekitar 20 kapal mulai bergerak keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz.
Optimisme pasar juga didorong kemajuan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Trump menyatakan pembicaraan berjalan positif dan kesepakatan dinilai semakin dekat.
“Kita akan melihat bagaimana hasilnya. Tapi saya pikir kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujarnya.
Selain itu, potensi lanjutan pembicaraan akhir pekan serta gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel turut meningkatkan harapan bahwa konflik di kawasan segera mereda.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan risiko belum sepenuhnya hilang.
Analis SEB Research, Ole Hvalbye, menilai pasar minyak Eropa masih akan mengalami pasokan ketat dalam jangka pendek, mengingat waktu pengiriman dari Teluk ke Rotterdam memakan sekitar 21 hari.
Sementara itu, analis PVM Oil Associates Tamas Varga memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz bisa kembali terjadi jika kesepakatan terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS tidak tercapai.
Dari sisi pasokan AS, laporan Baker Hughes menunjukkan jumlah rig minyak dan gas kembali turun untuk dua pekan berturut-turut, menandakan adanya penyesuaian aktivitas produksi di tengah volatilitas harga.
Perkembangan terbaru, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat membukanya untuk lalu lintas non-militer.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah kendali militer ketat hingga kebebasan penuh pelayaran bagi kapal-kapal Iran dipulihkan.
Keputusan ini diambil dengan alasan Washington belum mencabut blokade lautnya serta masih melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan pembajakan”, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera. (Aldo Fernando)









