Saham Konglomerat Topang IHSG Pekan Ini, Grup Barito Pimpin Kenaikan Indeks
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,35 persen sepanjang pekan ini, ditutup di level 7.634,00 pada Jumat (17/4/2026), ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar milik konglomerat, terutama dari Grup Barito.
Dari jajaran penggerak indeks, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 30,44 poin, seiring lonjakan harga sahamnya 14,22 persen sepekan ke Rp6.625 per unit.
Disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menguat 16,45 persen ke Rp2.230 per unit dan menyumbang 17,72 poin, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melonjak 18,22 persen sepekan ke posisi Rp1.590 per unit dengan kontribusi 9,80 poin.
Saham lain dalam ekosistem Barito, PT Petrosea Tbk (PTRO), juga naik 15,35 persen dan menopang indeks sebesar 5,44 poin.
Dari kelompok konglomerat lain, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), bagian dari Grup Bakrie, melesat 48,65 persen dan menyumbang 8,11 poin. Sementara dari Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) naik 4,5 persen dengan kontribusi 12,34 poin.
Selain itu, sejumlah saham big cap lain turut mengangkat indeks, seperti PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) yang melesat 20,23 persen dan menyumbang 17,13 poin.
Kemudian PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 9,7 persen (kontribusi 6,76 poin), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 1,18 persen (6,27 poin), serta PT Bayan Resources Tbk (BYAN) naik 2,91 persen (5,56 poin).
Di sisi lain, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp2,40 triliun di pasar reguler dalam sepekan, terutama di saham bank besar, menandakan bahwa kenaikan IHSG kali ini lebih ditopang oleh aliran dana domestik.
Sentimen global jelang akhir pekan cenderung positif. Harga minyak dunia anjlok tajam setelah Iran memastikan Selat Hormuz tetap terbuka selama gencatan senjata, meredakan kekhawatiran pasokan energi.
“Penurunan harga minyak menjadi penggerak utama seluruh pergerakan pasar,” kata Managing Director Global Rates Trading di Mischler Financial Group, Tom di Galoma, dikutip Reuters.
“Apakah kita benar-benar akan melihat gencatan senjata yang berkepanjangan dan pembukaan kembali selat? Saya belum yakin. Prosesnya tampaknya masih butuh waktu untuk benar-benar tuntas. Namun untuk saat ini, itulah yang sedang terjadi. Semuanya dipicu oleh kabar-kabar positif dari kawasan Teluk,” ujar Tom.
Penurunan harga minyak ini diikuti reli bursa saham global, dengan indeks utama S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan baru.
Koreksi harga energi juga menurunkan tekanan inflasi dan mendorong penguatan obligasi pemerintah AS, tercermin dari turunnya imbal hasil US 10-year Treasury yield.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS akibat meredanya premi risiko geopolitik turut memberi ruang bagi aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.
Perkembangan terbaru, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat membukanya untuk lalu lintas non-militer.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah kendali militer ketat hingga kebebasan penuh pelayaran bagi kapal-kapal Iran dipulihkan.
Keputusan ini diambil dengan alasan Washington belum mencabut blokade lautnya serta masih melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan pembajakan”, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera. (Aldo Fernando)









