Saham Batu Bara Bertenaga, Mana yang Jadi Jagoan?

Saham Batu Bara Bertenaga, Mana yang Jadi Jagoan?

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 1 April 2026 - 07:10
share

IDXChannel – Saham-saham batu bara bertenaga seiring lonjakan harga komoditas energi global di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

Momentum kenaikan harga batu bara mendorong mayoritas emiten sektor ini bergerak menguat dalam sepekan hingga sebulan terakhir.

Founder WH Project William Hartanto menjelaskan penguatan saham batu bara tidak lepas dari sentimen krisis energi yang kembali mencuat akibat konflik geopolitik.

"Mayoritas menguat. Momentumnya juga sedang ada karena konflik Timur Tengah ini menjadi faktor penguat komoditas (krisis energi)," kata William, Selasa (31/3/2026).

Dia menambahkan, secara teknikal sejumlah saham batu bara masih menarik untuk dikoleksi, terutama saat terjadi koreksi terbatas.

"ITMG, AADI, PTBA, rekomendasi beli semua. Kalau memungkinkan, buy on weakness saat terjadi pelemahan terbatas pada garis moving average (MA)-5," imbuh dia.

Sejalan dengan pandangan tersebut, kinerja saham batu bara utama memang menunjukkan penguatan yang solid. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) misalnya, naik 9,28 persen dalam sepekan dan 15,64 persen dalam sebulan ke Rp3.180 per unit hingga Selasa (31/3/2026).

Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) turut menguat 3,50 persen sepekan dan 8,19 persen sebulan ke Rp31.050 per unit, sementara PT ABM Investama Tbk (ABMM) naik 8,74 persen sepekan dan 5,78 persen sebulan ke Rp3.110 per unit.

Penguatan lebih tinggi terlihat pada PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang melonjak 6,16 persen sepekan dan 26,49 persen sebulan ke Rp29.725 per unit, serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang naik 7,38 persen sepekan dan 13,89 persen sebulan ke Rp11.275 per unit.

Sementara itu, PT Harum Energy Tbk (HRUM) masih tertahan dengan kenaikan 2,51 persen sepekan, namun terkoreksi 15,00 persen dalam sebulan ke Rp1.020 per unit.

Dari sisi komoditas, harga batu bara kembali menguat di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan ketergantungan negara-negara dunia pada komoditas tersebut.

Melansir Trading Economics, Selasa (31/3/2026), batu bara tercatat menembus USD140 per ton dan berpeluang naik lebih dari 20 persen sepanjang Maret, menandai lonjakan bulanan terbesar sejak puncak invasi Rusia ke Ukraina pada Mei 2022.

Konflik yang berkepanjangan menjaga premi risiko di pasar energi, sehingga pembangkit listrik di Asia dan Eropa meningkatkan penggunaan batu bara sebagai alternatif di tengah mahalnya minyak dan gas.

Jepang bahkan memberi sinyal akan meningkatkan pembangkit listrik berbasis batu bara untuk meredam guncangan energi akibat perang Iran.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meski Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka kembali, yang berpotensi memberi Teheran kendali lebih besar atas jalur perairan strategis tersebut.

Iran juga disebut tengah menyiapkan gangguan terhadap jalur pelayaran di Laut Merah, sehingga meningkatkan risiko terganggunya dua koridor utama perdagangan dan energi global.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, kenaikan harga batu bara terutama didorong lonjakan harga energi global akibat konflik Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak sekitar 36 persen dan gas 23 persen mendorong peralihan penggunaan energi (switching) ke batu bara sebagai alternatif yang lebih ekonomis.

Dari sisi pasar, batu bara kembali menjadi salah satu penerima manfaat utama krisis energi global.

Permintaan meningkat seiring substitusi dari gas dan LNG ke batu bara, sehingga sentimen terhadap komoditas ini masih cenderung bullish selama harga energi tetap tinggi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik