Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh

Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh

Ekonomi | sindonews | Minggu, 1 Maret 2026 - 10:30
share

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) resmi menutup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2), sebagai respons langsung atas serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayahnya sehari sebelumnya. Langkah drastis ini langsung mengancam jalur distribusi minyak mentah global dan memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi yang signifikan.

"Saai ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," ujar Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari kepada penyiar Al-Mayadeen, seperti dikutip dari Sputnik, Minggu (1/3/2026).

Penutupan ini terjadi setelah eskalasi militer besar-besaran di kawasan. AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target-target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan menargetkan infrastruktur militer AS di Timur Tengah.

Baca Juga:Media Pemerintah Iran: Khamenei Mati Syahid setelah Diserang Israel-AS

Situasi ini berdampak langsung pada industri minyak global. Kantor berita Reuters, mengutip empat sumber terpercaya, melaporkan, sejumlah perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan terkemuka telah menangguhkan pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui selat strategis tersebut. "Kapal-kapal kami akan tetap berada di tempatnya selama beberapa hari," ujar seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan perdagangan besar.Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling vital di dunia yang terletak di antara Iran dan Oman. Jalur sempit ini menghubungkan negara-negara penghasil minyak utama di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA), dengan pasar global. Selain minyak, Qatar sebagai pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar dunia juga hampir seluruhnya mengandalkan selat ini untuk distribusi produksinya.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA) pada 2024, sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Jumlah tersebut setara dengan hampir 20 persen dari total konsumsi minyak dunia, yang menggarisbawahi betapa krusialnya jalur ini bagi stabilitas energi global.

Menanggapi blokade ini, analis Saxo Bank, Ole Hansen, mengungkapkan bahwa hanya Arab Saudi dan UEA yang memiliki infrastruktur jalur pipa alternatif. Kedua negara tersebut memang telah meningkatkan ekspor minyak dalam beberapa hari terakhir dan berupaya mencari opsi pengiriman lain. Namun, EIA mencatat kapasitas jalur alternatif itu sangat terbatas, yakni maksimal hanya 2,6 juta barel per hari, jauh di bawah volume normal yang melewati Selat Hormuz.

Iran memiliki catatan sejarah dalam mengganggu pelayaran di kawasan tersebut. Sepanjang 2023-2024, Teheran setidaknya menyita tiga kapal di dekat Selat Hormuz. Selama ini, Armada Kelima AS yang bermarkas di Bahrain bertugas mengamankan jalur pelayaran komersial di selat dan sekitarnya, namun efektivitasnya kini diuji dengan penutupan total oleh IRGC.

Lonjakan Harga Minyak

Kekhawatiran akan kelangkaan pasokan langsung mendorong harga minyak melonjak. Pada Jumat (27/2) atau sehari sebelum penutupan, harga minyak mentah Brent dan WTI masing-masing naik hampir 2,8 menjadi USD72,9 dan USD67 per barel. Lembaga keuangan ING Global memperingatkan bahwa gangguan ini akan berdampak besar, dengan sekitar 9 juta barel minyak mentah dan 6 juta barel produk olahan per hari terhambat, meskipun ada upaya pengalihan.Dalam skenario terburuk, ING Global memproyeksikan harga minyak Brent bisa melonjak hingga USD140 per barel jika blokade berlangsung lama. "Pemblokadean berkepanjangan dapat menaikkan harga minyak Brent hingga 140 dolar AS per barel," bunyi laporan tersebut.

Baca Juga:Bandara Tersibuk di Dunia Rusak usai Iran Luncurkan Aksi Balasan, Ribuan Penumpang Terlantar

Skenario lain memperkirakan harga akan menyentuh USD100 per barel terlebih dahulu sebelum mereda ke kisaran USD80-90 per barel. Lonjakan harga minyak ini berpotensi memicu inflasi tinggi yang mengganggu pertumbuhan ekonomi global, mengingat pengalaman invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 sempat mendorong harga minyak menyentuh USD100 per barel.

Penelitian Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga minyak global sebesar 10 cenderung meningkatkan inflasi domestik sekitar 0,4 poin persentase. Dampaknya akan sangat terasa di negara-negara pengimpor energi seperti China dan Turki, melalui kenaikan biaya bahan bakar, produksi industri, dan inflasi secara umum.

Topik Menarik