Harga Minyak Melemah di Tengah Harapan Perang Timur Tengah Segera Berakhir
IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (31/3/2026) seiring meningkatnya harapan bahwa perang di Timur Tengah dapat segera berakhir.
Minyak jenis WTI turun 1,5 persen menjadi USD101,38 per barel. Brent kontrak paling aktif untuk pengiriman Juni merosot 2,6 persen ke USD104,63 per barel, sementara kontrak Mei berakhir di USD118,35 per barel, mendekati level tertinggi dalam hampir empat tahun dan naik 4,9 persen pada hari tersebut.
Laporan The Wall Street Journal yang menyebut Presiden Donald Trump bersedia mengakhiri operasi militer AS bahkan sebelum Selat Hormuz dibuka kembali untuk menghindari konflik berkepanjangan, diikuti pernyataan Presiden Iran yang menyatakan negaranya memiliki keinginan mengakhiri perang namun membutuhkan sejumlah jaminan.
"Saya pikir pasar minyak akan menentukan akhir dari perang ini," ujar Peter Cardillo dari Spartan Capital, seperti dikutip Dow Jones Newswires.
Ia melanjutkan, "Trump tahu bahwa jika harga minyak naik ke USD125 atau USD130 dan bertahan di level tersebut untuk beberapa waktu, dampaknya akan sangat buruk bagi perekonomian."
Meski demikian, kontrak minyak menutup kuartal pertama dengan kenaikan nilai dolar tertinggi sepanjang sejarah setelah perang di Teluk Persia membuat pengiriman melalui Selat Hormuz hampir terhenti total, mengganggu pasokan serta memicu serangan terhadap kilang dan infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Menurut catatan Dow Jones Newswires, WTI melonjak USD43,96 per barel atau 77 persen sepanjang kuartal, menjadi kenaikan dolar terbesar sepanjang sejarah sekaligus lonjakan persentase tertajam sejak kuartal II-2020.
Brent naik 94 persen atau USD57,50 per barel, juga mencatat kenaikan dolar terbesar sepanjang sejarah dan lonjakan persentase tertinggi sejak kuartal III-1990.
"Sekali lagi tekanan besar di pasar muncul setelah pernyataan Presiden Iran. Jika permusuhan segera berakhir, Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan pasokan akan kembali ke pasar, sehingga memangkas premi risiko yang selama ini terbentuk dalam harga," kata partner Again Capital, John Kilduff, seperti dikutip Reuters.
Benchmark minyak internasional terus menguat dalam empat pekan terakhir seiring eskalasi perang Iran yang memicu serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas terburuk sepanjang sejarah.
Survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC anjlok 7,3 juta barel per hari secara bulanan menjadi 21,57 juta barel per hari pada Maret, level terendah sejak puncak pandemi COVID-19 pada Juni 2020, seiring pemangkasan ekspor secara paksa.
Sepanjang bulan, pasar bergerak fluktuatif. Setiap kali Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan deeskalasi operasi militer, harga minyak sempat turun, namun kembali naik akibat gangguan pasokan dari ancaman Iran terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Trump juga mendorong negara lain untuk ikut membuka Selat Hormuz, namun negara-negara Eropa enggan terlibat sebelum konflik benar-benar berhenti.
AS telah mencabut sanksi terhadap minyak Rusia dan berkomitmen melepas cadangan minyak bersama sejumlah negara lain, tetapi langkah tersebut hanya mampu menutup kekurangan pasokan dalam waktu terbatas. (Aldo Fernando)









