AS Bersiap Serang Iran Habis-habisan dalam 96 Jam, Hanya Tunggu Perintah Trump

AS Bersiap Serang Iran Habis-habisan dalam 96 Jam, Hanya Tunggu Perintah Trump

Global | sindonews | Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:49
share

Pasukan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah bersiap melancarkan operasi militer habis-habisan terhadap Iran dalam waktu 96 jam setelah menerima perintah dari Presiden Donald Trump. Persiapan ini diungkap dua pejabat Amerika.

Kedua sumber tersebut mengatakan bahwa saat ini sudah ada cukup banyak pasukan yang dikerahkan di kawasan Timur Tengah untuk melaksanakan potensi serangan tersebut.

Baca Juga: Terancam Dikeroyok AS dan Israel, Iran Nyatakan Siap Hadapi Skenario Apa Pun

Mereka menambahkan, cakupan operasi militer baru AS kemungkinan akan melampaui upaya sekadar “memangkas rumput” atau mempertahankan status quo dengan menyerang radar, peluncur senjata, dan aset Iran lainnya yang dapat segera dipulihkan.

Pendekatan tersebut telah dilakukan sejak Trump menghentikan operasi tempur skala penuh pada awal tahun ini. “Ini akan menjadi upaya besar,” kata salah satu pejabat kepada CNN, yang dilansir Selasa (27/10/2026).

Pandangan tersebut juga disampaikan sejumlah pejabat AS yang masih menjabat maupun mantan pejabat yang mengetahui pembahasan internal mengenai perencanaan militer. Sebagian dari mereka menilai persoalannya bukan lagi apakah Trump akan memberikan lampu hijau untuk menyerang, melainkan kapan perintah itu dikeluarkan.

Mereka meyakini keputusan tersebut dapat diambil kapan saja sebelum akhir tahun ini, meskipun kemungkinan terbesar adalah setelah pemilu sela AS.

Militer AS Bakal Hadapai Kesulitan Besar

Pasukan Iran kini semakin memahami taktik militer AS. Karena itu, militer Amerika diperkirakan akan menghadapi kesulitan lebih besar untuk menghancurkan seluruh target yang telah ditetapkan secara efektif.

Meski demikian, para pemimpin di Komando Pusat AS (CENTCOM) dan Pentagon telah menyusun daftar target yang luas. Daftar tersebut mencakup infrastruktur energi Iran, fasilitas militer, dan fasilitas nuklir.

Para pejabat mengatakan Trump belum mengambil keputusan mengenai langkah yang akan ditempuh setelah pemilu sela. Namun, dia tampaknya semakin condong untuk memerintahkan operasi militer berskala besar.

Meski begitu, para pejabat mengingatkan bahwa Trump sebelumnya pernah terlihat cenderung memilih tindakan tertentu, tetapi kemudian mengurungkan niatnya pada saat-saat terakhir.Gedung Putih menolak memberikan komentar.

Seorang pejabat senior Pentagon mengatakan kepada CNN melalui pernyataan tertulis, “Departemen ini merupakan organisasi perencana, dan tugasnya adalah mengembangkan serta melaksanakan opsi militer yang diperintahkan Presiden.”

Penilaian intelijen AS terbaru menunjukkan bahwa Iran dan kelompok pemberontak Houthi kini menanggapi dengan sangat serius kemungkinan serangan baru oleh AS dan, berpotensi, Israel. Hal itu disampaikan dua sumber lain yang mengetahui persoalan tersebut.

Jika AS dan Israel melancarkan operasi militer baru terhadap Iran, Teheran dan Houthi kemungkinan akan segera membalas dengan menargetkan personel serta fasilitas Amerika di berbagai wilayah kawasan, bahkan berpotensi di luar kawasan tersebut.

Demikian menurut sumber-sumber yang mengetahui hasil penilaian intelijen AS terbaru.

CNN sebelumnya melaporkan bahwa sebuah memo Direktur Intelijen Nasional AS Jay Clayton kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio, tertanggal 23 Oktober dan tidak diklasifikasikan sebagai rahasia, menyebut intelijen AS menemukan bahwa “Iran telah secara substansial meningkatkan upaya untuk menargetkan personel AS”.

Memo tersebut juga menyatakan bahwa upaya perencanaan serangan “telah mencapai tahap lanjut, baik di Timur Tengah maupun di sejumlah negara lain”.

Para pejabat intelijen AS meyakini Iran dan Houthi kemungkinan tidak akan melancarkan serangan eskalatif terlebih dahulu terhadap personel Amerika atau Israel pada tahap ini. Namun, menurut salah satu sumber yang mengetahui penilaian intelijen terbaru AS, keduanya tidak akan ragu membalas jika Iran lebih dahulu menjadi sasaran serangan pasukan AS atau Israel.

Menurut sumber-sumber tersebut, ancaman regional yang ditimbulkan Iran dan Houthi juga menjadi salah satu alasan AS diperkirakan akan terus menarik personel dari kedutaan-kedutaannya di Timur Tengah secara diam-diam dalam beberapa hari mendatang.

Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, merupakan satu-satunya fasilitas diplomatik Amerika di kawasan yang telah menerima perintah keberangkatan personel. Namun, salah satu sumber mengatakan kepada CNN bahwa fasilitas diplomatik AS lainnya diperkirakan akan menerima instruksi serupa.Adapun fasilitas yang tidak menerima perintah tersebut akan mengurangi jumlah personelnya sesuai batas yang ditetapkan.

Selain itu, menurut seorang pejabat AS, personel militer Amerika yang tidak bertugas dalam fungsi esensial dan sebelumnya dijadwalkan berangkat ke Timur Tengah sebagai bagian dari rotasi pasukan berikutnya telah diberi tahu bahwa mereka tidak lagi akan dikirim ke kawasan tersebut.

Langkah ini semakin menegaskan kemungkinan terjadinya eskalasi regional dalam waktu dekat.

Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM, mengunjungi Selat Hormuz pada hari Minggu ketika militer AS terus mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan membantu kelancaran lalu lintas pelayaran di jalur perairan strategis tersebut.

CENTCOM mengatakan Cooper mengamati “situasi operasional saat ini” saat terbang menggunakan helikopter di atas selat tersebut. Dia juga bertemu dengan personel militer yang membersihkan jalur perairan itu dari ranjau-ranjau Iran.

“Kami terus berdiri bahu-membahu dengan mitra-mitra kami di Teluk dan industri pelayaran,” kata Cooper dalam siaran pers.

“Kunjungan ini menegaskan komitmen kuat kami untuk terus menjaga kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.”

Meskipun jumlah kapal tanker yang melintasi selat tersebut meningkat, harga minyak masih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah ancaman kemungkinan serangan Iran.

Seorang pejabat AS mengakui bahwa status quo di sekitar Selat Hormuz “tidak dapat dipertahankan” dalam jangka panjang.Tanpa terobosan diplomatik pada saat-saat terakhir, situasi tersebut menjadi salah satu alasan Trump mungkin memilih tindakan militer. Hal itu terjadi meskipun masih ada pertanyaan mengenai apakah Gedung Putih memiliki strategi yang lebih luas untuk mengakhiri konflik.

Israel Dorong Serangan Baru terhadap Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mendorong dilakukannya serangan baru terhadap Iran. Namun, para pejabat AS meminta Netanyahu menunda langkah tersebut sampai pemerintahan Trump siap melaksanakan operasi gabungan.

Informasi itu disampaikan dua pejabat AS dan seorang sumber keamanan Israel.

“Netanyahu benar-benar menginginkan dan berusaha meyakinkan Trump agar melakukan serangan gabungan terhadap Iran sebelum pemilu, tetapi Trump tidak memberikan lampu hijau,” kata sumber keamanan Israel kepada CNN.

Kantor Perdana Menteri Israel menyebut laporan tersebut sebagai “berita palsu”.

Sumber keamanan Israel itu menambahkan, salah satu alasan Trump menolak adalah karena Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, telah memberi tahu Jenderal AS Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, bahwa serangan tersebut akan merugikan pemilu di Israel dan menyebabkan penundaan pelaksanaannya.

Channel 12 News Israel melaporkan pada hari Minggu bahwa terjadi konfrontasi yang disebut “belum pernah terjadi sebelumnya” antara Zamir dan Netanyahu kurang dari 48 jam sebelum pemungutan suara pada Selasa.

Menurut laporan itu, Zamir menerima instruksi dari jajaran politik terkait Iran. Namun, dia meminta pembahasan mendalam dan persetujuan hukum sebelum melaksanakan instruksi tersebut.

Zamir khawatir tindakan itu dapat memicu kesalahan perhitungan yang berujung pada konflik langsung dalam waktu singkat.Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut laporan tersebut “sepenuhnya tidak berdasar dan palsu”.

Israel telah bersiap menghadapi kemungkinan melancarkan serangan tambahan terhadap Iran dalam sekitar satu pekan terakhir. Israel juga melobi para pejabat AS agar mendukung dan melengkapi serangan baru tersebut, kata sumber ketiga yang mendapat pengarahan mengenai masalah itu kepada CNN.

Namun, para pejabat senior AS, termasuk Trump, meminta Israel menahan diri. Sebaliknya, mereka memberi sinyal bahwa kedua negara akan segera melancarkan operasi gabungan.

Seluruh sumber mengatakan Israel tampaknya telah menunda rencana serangan tambahan dalam waktu dekat, tetapi sedang mempersiapkan kemungkinan operasi gabungan dengan AS, yang kemungkinan berlangsung setelah pemilu paruh waktu Amerika.

Sumber yang mendapat pengarahan mengenai masalah tersebut menambahkan bahwa salah satu alasan Israel tampaknya menyetujui penundaan serangan baru terhadap Iran adalah kebutuhan akan dukungan AS dalam pertahanan rudal.

Iran dan Houthi kemungkinan akan membalas jika terjadi serangan. Sementara itu, persediaan amunisi pertahanan Israel telah terkuras selama perang berlangsung.

Penilaian intelijen AS terbaru juga menunjukkan bahwa Netanyahu dan para sekutunya masih belum memiliki tujuan strategis yang jelas selain menunjukkan semacam “kemajuan” dan terus melemahkan rezim Iran, kata salah satu sumber yang mengetahui laporan tersebut.

Dalam pidatonya pada upacara kelulusan IDF pekan ini, Netanyahu mengatakan bahwa instruksinya kepada IDF, badan intelijen Mossad, dan lembaga keamanan lainnya adalah untuk menggulingkan rezim di Iran.

“Rencana-rencana itu sudah siap dan tinggal menunggu persetujuan Trump. Serangan itu bisa dilakukan setelah pemilu paruh waktu,” kata sumber yang sama kepada CNN.

Topik Menarik