Jajak Pendapat Memprediksinya Kalah Pemilu, tapi 5 Strategi Pasukan Lula Mampu Membalikkan Keadaan

Jajak Pendapat Memprediksinya Kalah Pemilu, tapi 5 Strategi Pasukan Lula Mampu Membalikkan Keadaan

Global | sindonews | Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:52
share

Para pendukung Luiz Inácio Lula da Silva bergerak secara massal meskipun berbagai jajak pendapat memprediksi kekalahan bagi petahana tersebut. Sebuah saluran WhatsApp yang dibentuk untuk mendukung kampanye pemilihan kembali Luiz Inácio Lula da Silva dinilai oleh pihak-pihak pendukungnya telah berperan dalam mewujudkan salah satu kebangkitan paling tak terduga dalam politik Brasil belakangan ini.

Presiden dari kubu kiri Brasil ini sempat tertinggal dari penantangnya yang berasal dari kubu kanan, namun berhasil membalikkan keadaan hanya dalam waktu tiga minggu.

Jajak Pendapat Memprediksinya Kalah Pemilu, tapi 5 Strategi Pasukan Lula Mampu Membalikkan Keadaan

1. Membentuk Pasukan lula yang Beranggotakan 10,8 Juta Pengikut

Di saat banyak pihak meragukan kemampuan Lula untuk mengubah hasil pemilu, sebuah saluran WhatsApp bernama 'Pasukan Lula' (Lula's Army) muncul dan dengan cepat berkembang hingga memiliki 10,8 juta pengikut.

Melansir BBC, dipimpin oleh anggota Kongres André Janones, gerakan ini mendorong para pendukung untuk membagikan video, mempromosikan tagar, dan menjaring pemilih baru.

Pertumbuhan pesat yang terjadi di antara dua putaran pemilihan ini sangat mencolok karena dianggap mampu membalikkan ketimpangan yang telah lama terjadi dalam politik Brasil.

Selama bertahun-tahun, kelompok konservatif yang berpihak pada mantan Presiden Jair Bolsonaro dipandang mendominasi mobilisasi politik daring, terutama di platform seperti WhatsApp dan Telegram.

Lula menyebut André Janones sebagai "Jenderal kita" setelah kontribusi besarnya membuahkan hasil.

2. Bermain di Ranah Digital dengan Meningkatkan Visibilitas di Media Sosial

Munculnya 'Pasukan Lula' meyakinkan banyak pendukung bahwa kubu kiri Brasil akhirnya menemukan cara untuk bersaing di ranah digital. Pergeseran ini sangat signifikan karena media sosial telah memainkan peran sentral dalam politik Brasil sejak kemenangan Jair Bolsonaro dalam pemilihan umum 2018, saat jaringan WhatsApp menjadi elemen penentu dalam kampanye politik.

Pesan-pesan dari "Pasukan Lula" (Lula's Army) sering kali menyertakan templat siap pakai untuk dibagikan oleh para pengikut kepada teman dan keluarga mereka. Setiap pesan memberikan tugas khusus kepada para pendukung, yang bertujuan untuk meningkatkan visibilitas Lula di media sosial.

Janones kerap menginstruksikan "pasukannya" untuk membuat video kampanye terbaru menjadi viral atau membantu agar tagar baru bisa populer dengan cepat.

"Kawan-kawan, mendesak!", "Jangan tidur dulu", "Jangan makan sebelum misi selesai!", dan "Ada satu tugas lagi sebelum kalian boleh beristirahat" adalah beberapa contoh instruksi yang diberikan.

3. Mengandalkan Livestreaming selama 24 Jam

Menjelang hari pemilihan, anggota kongres tersebut juga mengadakan siaran langsung selama 24 jam—yang disebut sebagai "siaran langsung pembalik keadaan" (turnaround livestream)—meskipun berbagai jajak pendapat saat itu masih menunjukkan keunggulan bagi Bolsonaro.

Taktik ini berhasil, terlepas dari kekhawatiran beberapa anggota Partai Pekerja (Workers' Party) bahwa gaya Janones yang sering konfrontatif di media sosial dapat merusak citra moderat yang ingin mereka bangun untuk Lula.Dalam pidato kemenangannya, Lula menyebut Janones sebagai "Jenderal kita" dan berterima kasih kepadanya karena telah "menjaga semangat pasukan kita tetap tinggi setiap harinya".

4. Menggerakkan Akar Rumput

Namun, mengukur dampak elektoral dari mobilisasi daring merupakan hal yang sangat sulit dilakukan.

Meskipun sekutu Lula menganggap "Pasukan Lula" berperan dalam mendorong kebangkitan kembali tersebut, para pakar politik mengingatkan bahwa mustahil untuk menentukan berapa banyak suara—jika ada—yang dipengaruhi secara langsung oleh operasi melalui WhatsApp itu.

Pakar politik Denilde Holzhacker berpendapat bahwa perubahan dalam strategi kampanye Lula menjadi kunci keberhasilannya untuk kembali unggul.

Menurutnya, alih-alih hanya mengandalkan keterlibatan daring, kandidat dari Partai Pekerja ini berhasil menghubungkan kampanye digital dengan mobilisasi akar rumput di lapangan.

Holzhacker menjelaskan bahwa tim kampanye mengintensifkan upaya di tingkat lokal dan menyesuaikan pesan yang disampaikan—dengan mengaitkan kemungkinan kemenangan Bolsonaro terhadap kekhawatiran akan perubahan program sosial serta hilangnya hak-hak masyarakat."Lula patut dipuji karena ia menyadari kelemahannya sendiri dan mengubah gayanya secara total," ujarnya. "Dan Janones berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil bagi kubu kiri Brasil—mendominasi media sosial."

Sebaliknya, Holzhacker berpendapat bahwa Flávio Bolsonaro memasuki putaran kedua dengan keyakinan berlebih akan kemenangan, sehingga gagal menyampaikan pesannya kepada para pendukung secara efektif.

5. Meningkatkan Partisipasi Pemilih

Sosiolog sekaligus pakar ilmu politik Mayra Goulart, seorang profesor di Universitas Federal Rio de Janeiro, juga mengingatkan agar tidak mengaitkan kembalinya Lula semata-mata karena media sosial.

"Hal itu merupakan kombinasi antara media sosial dan mobilisasi di tingkat akar rumput," ujarnya. "Dunia nyata memungkinkan bentuk mobilisasi yang mampu menekan angka golput dan meyakinkan pemilih yang belum menentukan pilihan."

Menurut pandangannya, para pendukung Lula berhasil mengubah antusiasme di dunia maya menjadi keterlibatan politik di dunia nyata.

"Mereka yang berkomitmen pada kemenangan Lula. Upaya tersebut berhasil menyatukan banyak orang dan meyakinkan mereka untuk memberikan suara," ujar Goulart.Ia berpendapat bahwa upaya ini tidak hanya membantu meningkatkan tingkat partisipasi pemilih, tetapi juga dapat menjadi aset berharga bagi pemerintahan Lula mendatang.

"Menurut saya, upaya kolektif ini merupakan pengalaman belajar yang penting dan akan sangat berguna bagi pemerintahan yang masih akan menghadapi banyak tantangan ke depan. Langkah ini tidak hanya membantu menekan angka golongan putih (golput), tetapi juga berhasil meyakinkan sejumlah besar pemilih yang sebelumnya belum menentukan pilihan."

Lula sendiri mengisyaratkan bahwa mobilisasi di balik kembalinya ia ke tampuk kekuasaan dapat memengaruhi gaya pemerintahannya di tahun-tahun mendatang.

Dalam pidato kemenangannya, ia menyatakan bahwa pemilihan umum ini memberinya banyak pelajaran dan berjanji untuk mengubah cara Brasil diperintah.

"Kami akan memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, dan komunikasi digital akan memainkan peran yang jauh lebih besar dalam pemerintahan saya."

Topik Menarik