Ribuan Orang Melarikan Diri dari Kamp Pengungsi yang Terdampak Ebola di Kongo

Ribuan Orang Melarikan Diri dari Kamp Pengungsi yang Terdampak Ebola di Kongo

Global | sindonews | Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:05
share

Ribuan orang telah melarikan diri dari satu kamp pengungsi yang terdampak Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (RD Kongo). Situasi itu menyebabkan kamp tersebut sebagian besar ditinggalkan setelah bentrokan pecah saat operasi keamanan berlangsung.

Kabar itu menurut pernyataan PBB pada hari Kamis (1/10/2026). Kamp Kigonze di Provinsi Ituri sebelumnya menampung sekitar 19.000 orang.

Para penghuni mulai melarikan diri setelah aparat keamanan memasuki lokasi tersebut untuk mencari senjata dan anggota kelompok bersenjata yang dicurigai. Terdengar pula suara tembakan selama operasi berlangsung.

"Tantangan besar untuk menghentikan penyebaran Ebola di Republik Demokratik Kongo kini menjadi semakin berat," ujar pihak PBB.

Satu pusat transit Ebola di Kigonze juga hancur akibat kebakaran pekan ini, yang semakin mengganggu upaya pengendalian wabah. Fasilitas tersebut, yang dikelola oleh International Medical Corps dan didukung lebih dari 50 staf, digunakan untuk mengisolasi dan memeriksa kasus-kasus yang dicurigai sebelum pasien dipindahkan untuk mendapatkan perawatan.Pertikaian juga menghambat respons penanganan Ebola di wilayah lain di bagian timur RD Kongo.

Lebih dari 3.000 orang telah melarikan diri dari kamp pengungsi Rhoe di wilayah Djugu, Ituri, sejak bentrokan meningkat pada 27 September, menurut badan kemanusiaan PBB, OCHA. Dilaporkan setidaknya empat orang tewas dan tujuh lainnya terluka.

Wabah ini, yang telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan masyarakat pada bulan Mei, telah menyebar ke tujuh dari 26 provinsi di negara tersebut, dengan Ituri tetap menjadi pusat penyebaran utama.

Hingga 29 September, otoritas Kongo telah mencatat 8.224 kasus terkonfirmasi dan 3.982 kematian, sehingga tingkat kematian akibat penyakit ini (case fatality rate) mencapai 48,4.

Pada hari Kamis, Africa Centers for Disease Control and Prevention (Africa CDC) memperingatkan agar penurunan jumlah kasus yang dilaporkan baru-baru ini tidak ditafsirkan sebagai bukti bahwa wabah mulai mereda.Mereka menyatakan situasi keamanan yang tidak stabil telah mengganggu upaya pemantauan di wilayah-wilayah terdampak. Dari 63 zona kesehatan yang terdampak, 45 di antaranya masih melaporkan adanya penularan aktif.

"Penurunan kurva ini tidak berarti wabah sudah sepenuhnya terkendali," kata Dr. Wessam Mankoula dari Africa CDC. "Pada tahap ini, kita belum bisa mengatakan wabah sudah terkendali."

Wabah ini disebabkan galur Ebola Bundibugyo dan telah melampaui jumlah korban wabah tahun 2018–2020 di Republik Demokratik Kongo.

Saat ini belum ada vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui untuk galur tersebut, meskipun menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kandidat vaksin dan pengobatan sedang dalam tahap penelitian.

Baca juga: Iran Terima Respons AS soal Usulan Pembukaan Lagi Selat Hormuz

Topik Menarik