Aneh! China Rival AS, tapi Trump Minta Xi Jinping Beli Senjata Amerika

Aneh! China Rival AS, tapi Trump Minta Xi Jinping Beli Senjata Amerika

Global | sindonews | Senin, 28 September 2026 - 09:16
share

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta Presiden China Xi Jinping agar Beijing membeli senjata Washington. Seruan ini aneh karena kedua negara merupakan rival strategis utama di berbagai bidang.

Duta Besar AS untuk China Duta Besar David Perdue mengungkap percakapan kedua pemimpin dalam wawancara hari Minggu (27/9/2026) dengan Fox News Sunday, beberapa hari setelah kunjungan Xi Jinping ke Gedung Putih.

Baca Juga: Hasil Pertemuan Trump dan Xi Jinping: Pangkas Tarif Barang Rp537 Triliun, Buka Dialog AI

Menurut Perdue, Trump bertanya kepada Xi Jinping apakah Beijing berminat membeli senjata Amerika, meskipun terdapat pembatasan lama terhadap ekspor militer ke negara komunis tersebut.

Dalam wawancara itu, Perdue membahas pendekatan Trump terhadap China dan penjualan senjata Amerika yang terus berlanjut ke Taiwan.

"Presiden Trump terus berkata, 'Hei, kami menjual senjata kepada pihak lain di seluruh dunia'," kata Perdue. "Dia bahkan sempat bertanya kepada Presiden Xi apakah ia ingin membeli sebagian senjata tersebut."Diplomat Amerika itu tidak menyebutkan kapan Trump melontarkan gagasan itu, jenis senjata apa yang dibahas, atau bagaimana respons Xi. Kedua pemimpin telah bertemu dua kali tahun ini–di Beijing pada bulan Mei dan selama kunjungan kenegaraan tiga hari Xi Jinping ke Washington pekan lalu.

Penjualan nyata apa pun akan menghadapi hambatan hukum yang besar, karena Kongres Amerika telah membatasi ekspor peralatan pertahanan yang tercantum dalam Daftar Amunisi AS (US Munitions List) ke China sejak tahun 1990. Pembatasan tersebut memang memiliki pengecualian terbatas dan dapat dikesampingkan berdasarkan keputusan presiden demi kepentingan nasional, namun secara efektif telah mempertahankan embargo senjata AS terhadap Beijing selama beberapa dekade.

Kendati demikian, Washington tetap menjadi pemasok utama senjata asing bagi Taiwan sembari secara resmi mempertahankan kebijakan "Satu-China". Undang-Undang Hubungan Taiwan tahun 1979 menyatakan bahwa AS akan menyediakan peralatan dan layanan pertahanan bagi pulau tersebut dalam jumlah yang dianggap perlu untuk mempertahankan "kemampuan pertahanan diri yang memadai".

Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari China dan berulang kali menuntut agar Washington menghentikan dukungan militer semacam itu, dengan alasan bahwa penjualan tersebut melanggar kedaulatannya dan mengganggu stabilitas hubungan di Selat Taiwan.

Menjelang kunjungan Xi ke Washington, Kementerian Pertahanan China mendesak AS untuk bersikap "sangat hati-hati" terkait masalah Taiwan.Pemerintahan Trump menyetujui paket senilai USD11 miliar untuk Taiwan pada bulan Desember lalu, yang merupakan paket terbesar yang diumumkan hingga saat ini. Paket lain senilai sekitar USD14 miliar telah tertunda selama berbulan-bulan, di mana Trump menyebutnya sebagai "alat tawar-menawar yang sangat bagus".

Perdue menyampaikan pernyataan tersebut saat membela rekam jejak Trump terkait Taiwan, dengan mengeklaim bahwa presiden Amerika itu telah menyetujui pasokan senjata yang jauh lebih banyak untuk pulau tersebut dibandingkan para pendahulunya. Sang duta besar menggambarkan pertanyaan Trump kepada Xi sebagai ciri khas pendekatannya dalam bernegosiasi, dan bukan sebagai bukti bahwa penjualan resmi sedang dipertimbangkan.

Selain itu, tidak jelas apa yang secara realistis dapat ditawarkan Washington kepada Beijing yang belum diproduksi sendiri oleh China di dalam negeri.

China telah mandiri dalam sebagian besar kategori senjata konvensional utama, sementara peringkat yang sering dikutip—yang menempatkan China di bawah AS—didasarkan pada pendapatan penjualan senjata dalam nilai dolar, bukan pada jumlah produksi fisik.

Dalam bidang pembuatan kapal, di mana produksi dapat dibandingkan secara lebih langsung, kapasitas industri China diperkirakan sekitar 230 kali lipat dari Amerika Serikat.

Sementara itu, kesaksian di hadapan Kongres Amerika menyebutkan bahwa produksi drone kecil China mencapai lebih dari 100 kali lipat tingkat produksi AS. Dengan demikian, yang tersisa hanyalah teknologi mutakhir dan keahlian teknis di bidang-bidang di mana Washington masih memegang keunggulan—yang justru merupakan kemampuan yang dianggap sangat sensitif oleh AS dan kecil kemungkinannya untuk dibagikan kepada rival strategis utamanya.

Topik Menarik