Lagi, Iran Rampas Drone Selam Canggih AS di Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pada hari Minggu (27/9/2026) bahwa mereka telah menyita atau merampas sebuah drone selam canggih milik Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Ini merupakan insiden kedua setelah awal September lalu, di mana Iran menyita drone selam Amerika yang tampak seperti Drive-LD buatan Anduril.
Selat Hormuz yang strategis telah diblokade oleh Teheran sejak AS dan Israel meluncurkan perang gabungan terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Perang ini kemudian meluas ke berbagai negara Timur Tengah yang menjadi pangkalan militer Amerika.
Baca Juga: Maskapai Iran Kena Sanksi AS tapi Presiden Pezeshkian Bisa Pulang dari PBB, Bagaimana Caranya?
"Melalui operasi terkoordinasi dan kompleks yang melibatkan pengawasan intelijen serta peperangan elektronik, personel Angkatan Laut IRGC berhasil menangkap kendaraan bawah air nirawak (UUV) canggih milik militer AS yang disebut sebagai teroris," demikian pernyataan Angkatan Laut IRGC yang disiarkan stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB.
"Drone tersebut beroperasi di Selat Hormuz untuk tujuan spionase," lanjut pernyataan tersebut.Drone selam itu diidentifikasi modelnya sebagai kendaraan bawah air otonom (AUV) Remus 600. "Kini berada di tangan spesialis pasukan untuk pemulihan data," imbuh pernyataan Angkatan Laut IRGC.Pada awal September, Iran menyatakan telah menyita drone bawah air AS, di mana rekaman video yang dirilis IRGC memperlihatkan perangkat yang tampak seperti Dive-LD buatan Anduril.
Pentagon mengakui kehilangan wahana bawah air tersebut namun menyatakan bahwa itu adalah model lama yang rusak dan tidak membawa data sensitif maupun peralatan rahasia.
Beberapa hari kemudian, IRGC mengeklaim telah menghancurkan Saildrone Explorer milik AS di dekat pintu masuk Selat Hormuz, serta merilis rekaman yang memperlihatkan wahana itu terbakar di permukaan air.
Pada pertengahan September, militer AS menyatakan telah menggagalkan upaya IRGC untuk menyita Saildrone lainnya, dengan menyerang dua kapal Iran yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
Berbagai insiden ini terjadi di tengah ketegangan maritim yang kian memanas antara Washington dan Teheran. AS telah menghancurkan beberapa kapal tanker minyak Iran setelah menuduh IRGC menembakkan rudal balistik ke arah kapal perang AS. Sementara itu, Iran telah menargetkan kapal-kapal AS serta kapal tanker komersial yang dituduh melanggar pembatasan di sekitar Selat Hormuz.
Awal pekan ini, muncul laporan bahwa Washington telah meningkatkan aktivitas militer di sekitar jalur perairan tersebut, di mana pesawat pengintai terlihat di dekat wilayah Iran dan sejumlah jet tempur tambahan dilaporkan telah dikerahkan ke kawasan itu.
Di sisi lain, upaya diplomatik pekan ini untuk memecahkan kebuntuan hubungan Iran-AS tampaknya telah gagal. Di Sidang Umum PBB, Iran mengajukan apa yang disebut Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sebagai "rencana konkret tujuh hari", yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali perundingan nuklir jika Washington mencabut blokade laut, melonggarkan pembatasan ekspor minyak Iran, melepas aset yang dibekukan, serta mematuhi gencatan senjata—termasuk menghentikan operasi Israel di Lebanon.
Presiden AS Donald Trump menolak usulan tersebut karena dianggap "tidak dapat diterima". "Saya menolak usulan mereka," ujarnya di luar Gedung Putih pada hari Sabtu, seraya mengeklaim bahwa Teheran menginginkan kesepakatan "karena mereka kalah telak".
Dalam forum PBB, Trump mengatakan bahwa dia menghadapi "keputusan besar" mengenai apakah akan "membinasakan" Iran jika negosiasi gagal.
Komandan tinggi militer Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, pada hari Minggu menyatakan bahwa perang belum usai, sembari menegaskan bahwa Teheran telah memenangkan tahap awal konflik namun kini perlu "mengukuhkan kemenangannya".






