Presiden Ini Tiba-tiba Mengundurkan Diri, Dipuji Pendukung di Luar Istana

Presiden Ini Tiba-tiba Mengundurkan Diri, Dipuji Pendukung di Luar Istana

Global | sindonews | Senin, 28 September 2026 - 08:47
share

Presiden Serbia Aleksandar Vucic tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatannya pada hari Minggu (27/9/2026) atau menjelang pemilu dini parlemen.

Meski memutuskan untuk mengundurkan diri, masa jabatan Presiden Vucic sebenarnya juga akan segera berakhir.

Baca Juga: Profil Aleksandar Vucic, Presiden Serbia yang Didemo 1 Juta Warganya karena Kasus Korupsi

Setelah mengundurkan diri, Vucic berencana mencalonkan diri kembali sebagai kandidat dari partai berkuasa, Partai Progresif Serbia (SNS), namun kali ini untuk memperebutkan jabatan perdana menteri (PM).

Vucic mengumumkan langkah tersebut dari istana kepresidenan, seraya menyatakan bahwa pidatonya itu akan menjadi yang terakhir dalam kapasitasnya sebagai presiden.

Dia mundur di tengah masa jabatan kepresidenan keduanya dan, menurut konstitusi Serbia, tidak dapat mencalonkan diri lagi untuk jabatan tersebut. Sesuai konstitusi, pemilu baru harus diselenggarakan dalam waktu tiga bulan setelah pengunduran diri presiden.Vucic pernah mengutarakan niatnya untuk meninggalkan jabatan presiden dalam sebuah pertemuan pada bulan Juni. Namun, dia baru benar-benar mewujudkan niatnya itu pada hari Minggu.

Pemungutan suara pemilu dini presiden yang akan datang berarti warga Serbia harus pergi ke tempat pemungutan suara dua kali tahun ini. Pemilu dini parlemen dijadwalkan berlangsung pada 25 Oktober, di mana Vucic diperkirakan akan maju sebagai pemimpin partainya, SNS, dan berpotensi menduduki jabatan perdana menteri jika partai tersebut keluar sebagai pemenang.

Kerumunan besar pendukung Vucic berkumpul di luar istana kepresidenan untuk melepas kepergiannya. Sebagian membawa spanduk bertuliskan "Terima kasih" serta memuji Vucic sebagai "genius politik".

Presiden yang akan segera lengser itu menemui langsung para pendukungnya setelah menyelesaikan pidato dan menandatangani surat pengunduran dirinya di hadapan kamera, sebagaimana terlihat dalam rekaman kejadian tersebut.

"Malam ini menandai kesempatan terakhir saya, saat terakhir saya berada di gedung indah ini sebagai presiden. Saya telah menjabat sebagai presiden lebih lama dibandingkan siapa pun dalam sejarah Serbia sejak diterapkannya demokrasi multipartai. Saya bangga telah mencapai hal ini berkat suara dan dukungan Anda semua," ujar Vucic dalam pidatonya. Masa jabatan kedua Vucic, yang sedianya berlangsung hingga Mei 2027, selama dua tahun terakhir terus dibayangi oleh protes anti-pemerintah yang berulang serta bentrokan sporadis antara pengunjuk rasa dan polisi. Gejolak ini dipicu oleh tragedi di stasiun kereta api Novi Sad pada tahun 2024, ketika runtuhnya kanopi beton menewaskan 16 orang.

Tragedi tersebut memicu gerakan anti-pemerintah yang lebih luas, di mana gerakan tersebut menuding pihak berwenang telah melakukan kelalaian dan penyalahgunaan dana publik, yang diduga menyebabkan infrastruktur peninggalan era Yugoslavia terbengkalai hingga rusak.

Vucic secara konsisten membantah tuduhan tersebut, dan justru berargumen bahwa gejolak itu dipicu oleh Brussels sebagai bagian dari kampanye tekanan yang bertujuan mendorong Beograd agar menyelaraskan kebijakan luar negerinya lebih erat dengan Uni Eropa.

Topik Menarik