Ancam Hancurkan Iran, Trump Juga Perkirakan Ada Kesepakatan setelah Pemilu Sela AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Selasa (22/9/2026) mengatakan ia memperkirakan akan mencapai kesepakatan dengan Iran setelah pemilihan umum sela AS. Dia juga memperingatkan bahwa ia menghadapi "keputusan besar" mengenai apakah akan mengupayakan kesepakatan atau menghancurkan negara tersebut.
"Saya harus mengambil keputusan besar: Akankah kesepakatan dibuat dengan Iran yang memungkinkan mereka bangkit kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya? Mungkin salah satu yang terbesar di Timur Tengah atau bahkan di dunia, atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam itu dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh serta menghancurkan orang dan negara lagi?" ujar Trump dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB di New York.
Trump mengatakan ia yakin "kita akan membuat kesepakatan tepat setelah pemilu," dengan alasan Teheran sedang menunggu untuk melihat bagaimana kinerja Partai Republik dalam pemilu sela bulan November mendatang.
"Yang tidak mereka sadari adalah saya tidak sedang mencalonkan diri. Saya sudah melakukannya dan menang telak," katanya.
Dia menambahkan bahwa ia akan tetap menjabat selama dua setengah tahun ke depan dan membantu Partai Republik dalam pemilu tersebut."Saya sama sekali tidak mempertimbangkan faktor pemilu dalam kaitannya dengan Iran. Hal itu bahkan tidak terlintas di benak saya. Satu-satunya hal yang menjadi perhatian saya adalah Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujarnya.
Trump mengatakan ia membuka negosiasi dengan Iran setelah menjabat dan menawarkan "kerja sama ekonomi penuh" sebagai imbalan atas penghentian program nuklir Teheran dan dukungan terhadap terorisme. Ia mengklaim Teheran menolak usulan tersebut.
Ia kembali mengklaim AS telah "melenyapkan" program nuklir Iran hingga "terkubur di bawah tumpukan puing."
"Setelah memberikan segala kesempatan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, saya mengambil tindakan untuk memastikan bahwa baik Amerika Serikat maupun negara mana pun tidak perlu menghadapi mimpi buruk semacam itu," katanya.
Trump mengklaim seluruh 159 kapal angkatan laut Iran telah dihancurkan, begitu pula dengan angkatan udara, radar, dan sistem pertahanan udara Teheran. Kapasitas produksi rudal dan drone negara itu pun "hampir musnah," ujarnya.Ia juga mengklaim ekonomi Iran telah hancur lebur dan tingkat inflasi mencapai "jauh di atas 300." Trump juga menuduh Iran melanggar gencatan senjata yang disepakati untuk pembahasan nuklir dengan melancarkan serangan terhadap kapal-kapal sipil dari negara lain yang melintasi Selat Hormuz.
Ia juga menepis klaim bahwa AS kekurangan amunisi, dengan menyatakan Washington memiliki lebih banyak amunisi daripada yang "mungkin bisa mereka bayangkan untuk digunakan," serta sedang memperbesar persediaannya hingga ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, yang menurut Teheran telah menewaskan ribuan orang. Teheran membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) di seluruh kawasan serta secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis bagi pasokan energi.
Sejak saat itu, perang telah meluas ke seluruh kawasan, sementara upaya diplomatik untuk mengakhiri permusuhan terus dilakukan.
Baca juga: AS Terbuka untuk Pertemuan dengan Iran di PBB




