Mantan Diplomat AS Ini Sebut AS Bisa Mengalami Krisis Akibat Sanksi ke Iran
Amerika Serikat bisa menghadapi dampak ekonomi akibat kampanye tekanan yang terus meningkat terhadap Iran—terutama menjelang musim dingin saat permintaan bahan bakar pemanas meningkat—serta ketidakpastian mengenai pasokan pasar jika pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu. Hal ini disampaikan oleh Joey Hood, seorang mantan diplomat AS.
Itu menunjukkan kebijakan AS justru bisa menyebabkan krisis bagi Washington. Itu menunjukkan bagaimana senjata makan tuannya sendiri.
"Ada kemungkinan akan ada biaya, biaya ekonomi, bagi Amerika Serikat, terutama saat kita memasuki musim dingin," ujar Hood kepada Al Jazeera.
Hood juga menanggapi komentar juru bicara parlemen Iran, Hassan Ghashghavi. Ghashghavi menyatakan bahwa Teheran tetap berkomitmen pada nota kesepahaman (MoU) mereka sembari menuduh Washington sengaja memicu eskalasi. Ia mengibaratkan situasi ini dengan pemikiran filsuf Tiongkok, Sun Tzu: "Ketika musuh terkepung, Anda harus memberi mereka kesempatan untuk mundur; jika tidak, mereka akan melawan seolah-olah nyawa mereka bergantung padanya. Mereka akan melawan hingga titik darah penghabisan.""Inilah yang tidak ada: jalan keluar," ujarnya.
Hood mengatakan ia tidak yakin Trump saat ini melihat adanya jalan keluar semacam itu. "Donald Trump tentu tidak mengetahui adanya jalan keluar, namun saya yakin para mediator bisa menciptakannya," katanya. "Mereka perlu menawarkan sesuatu yang inovatif dan berani, sesuatu yang berbeda."Sebelumnya, seorang anggota parlemen senior Iran Hassan Ghashghavi mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa Iran telah menargetkan kapal perang AS dengan rudal balistik.
"Ya, ya, kami sepenuhnya membenarkan hal ini. Kami sedang berada dalam perang eksistensial melawan Amerika," ujar Hassan Ghashghavi, anggota parlemen sekaligus juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, kepada Al Jazeera.
"Tentu saja, mereka telah bertindak secara militer dengan melanggar segala hukum internasional," katanya, seraya menambahkan bahwa "karena posisi Amerika jauh dari kami, mereka tidak memandang perang ini sebagai ancaman eksistensial."
Saat ditanya mengenai perubahan aturan pelibatan (rules of engagement) Iran, Ghashghavi mengatakan, "Blokade ini seharusnya tidak pernah ada," sembari merujuk pada nota kesepahaman yang kini sudah tidak berlaku lagi. "Empat hari lalu, presiden negara kami menyatakan dalam KTT Bishkek bahwa kami siap untuk kembali [ke meja perundingan], namun para pejabat AS tidak mengindahkan hal-hal tersebut dan justru malah meningkatkan eskalasi serta memperketat blokade."
Ghashghavi menepis peringatan dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menyatakan bahwa setiap serangan Iran terhadap kapal-kapal AS akan dibalas dengan penghancuran armada kapal tanker minyak Iran—yang disebut Hegseth sebagai armada yang "tak berdaya"—setelah serangan terhadap kekuatan angkatan laut dan udara Iran.
"Apakah ada orang yang berpikiran waras mau menerima klaim bahwa kekuatan angkatan laut dan udara Iran telah dilenyapkan?" ujar Ghashghavi, seraya merujuk pada serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran baru-baru ini.





