Pakar Militer Ini Sebut Akurasi dan Daya Gempur Balasan Iran Terbukti Valid
Seorang analis keamanan Samir Puri menyatakan "kekhawatiran yang sangat mendalam" setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran menyusul jeda perang selama satu bulan.
"Hal ini sangat mengkhawatirkan karena akurasi dan daya gempur balasan Iran jelas terbukti, begitu pula kemampuan mereka untuk terus melancarkan serangan balasan bahkan setelah lebih dari enam bulan sejak dimulainya serangan AS-Israel," ujar Samir Puri, dosen studi perang di King’s College London.
"Tidak ada tanda-tanda Iran kehabisan amunisi. Sebaliknya, ada banyak indikasi bahwa AS ingin memaksa Iran membuat semacam konsesi yang nyata... Jadi menurut saya, ya, saat ini sangat mungkin terjadi eskalasi lebih lanjut."
Pesan yang disampaikan Presiden AS Donald Trump mengenai akhir dari perang enam bulan ini "sangat membingungkan," kata Puri kepada Al Jazeera.
Dukungan yang diperoleh Iran dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) pekan ini dari Tiongkok, Rusia, India, dan negara-negara lain menunjukkan bahwa Iran "jelas tidak terisolasi di panggung internasional.""Jadi menurut saya, AS berada dalam kondisi yang sangat bingung terkait tujuan strategisnya dalam situasi ini," kata Puri.
Sementara itu, Negar Mortazavi, seorang peneliti senior di Center for International Policy, mengatakan bahwa konflik yang kembali memanas antara AS dan Iran bermula dari kegagalan Washington dalam memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada bulan Juni.
Mortazavi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa AS mulai "melanggar atau tidak mematuhi MoU tersebut, atau pada dasarnya menganggapnya sebagai selembar kertas yang tidak ada gunanya."
Ia menyebutkan bahwa Trump menghadapi tekanan politik yang kuat terkait kesepakatan tersebut, baik dari Partai Demokrat maupun dari anggota partainya sendiri. Menurutnya, Teheran memandang MoU itu sebagai "kesepakatan yang bagus" dan ingin kembali melaksanakannya.
"Mari kita kembali ke kesepakatan itu dengan komitmen nyata," ujar Mortazavi, seraya menyoroti janji-janji yang belum dipenuhi, termasuk "mengakhiri perang di semua lini, termasuk Lebanon," mencairkan aset Iran, dan menyelesaikan masalah keamanan maritim di Selat Hormuz melalui kerja sama regional.
Ia mengatakan bahwa komitmen-komitmen tersebut belum dipenuhi, merujuk pada janji-janji yang diingkari yang telah menghambat kemajuan diplomatik. "Mengakhiri perang di semua front, termasuk Lebanon—yang tidak terjadi—serta mencairkan aset Iran—yang juga tidak terjadi," ujar Mortazavi, seraya menambahkan bahwa Iran dan Oman telah menyepakati penyelesaian terkait Selat Hormuz pekan lalu, sebelum adanya eskalasi baru dari pihak AS.







