Ikatan dan Makin Rapuh, AS Uji Loyalitas bagi Anggota NATO
AS mengaitkan pemberian dukungan militer bagi anggota NATO dengan sejauh mana mereka sejalan dengan kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump,. Itu dilaporkan Bloomberg.
Washington baru-baru ini mengirimkan dokumen kepada anggota NATO yang berisi serangkaian pertanyaan untuk mengukur tingkat keselarasan mereka dengan pemerintahan Trump, ungkap media tersebut.
Pemerintah negara-negara anggota ditanya apakah mereka telah "memberikan dukungan secara terbuka" terhadap inisiatif kebijakan luar negeri AS, termasuk yang terkait dengan Timur Tengah dan Belahan Bumi Barat, lapor media tersebut yang telah meninjau salinan dokumen itu. Washington juga ingin mengetahui "batasan" apa yang diterapkan masing-masing negara terhadap pasukan AS yang beroperasi dari pangkalan militer di wilayah mereka.
Jawaban-jawaban tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam keputusan mengenai distribusi kemampuan militer AS di antara anggota NATO.
Langkah yang tampak sebagai tes loyalitas ini muncul di tengah ketegangan yang kian meningkat antara Washington dan sekutu-sekutu tradisionalnya di Eropa, di mana Trump berulang kali menuding anggota NATO hanya mengandalkan perlindungan AS tanpa memberikan kontribusi yang memadai bagi pertahanan mereka sendiri.Trump telah lama menjadi pengkritik keras anggaran pertahanan negara-negara NATO; ia kerap menuduh anggota-anggota Eropa kurang mendanai militer mereka dan pada dasarnya bergantung pada Washington untuk membiayai pertahanan mereka.
Pada KTT tahun lalu di Den Haag, negara-negara anggota NATO sepakat untuk meningkatkan belanja terkait pertahanan dan keamanan hingga mencapai 5 dari PDB pada tahun 2035. Trump menyambut baik komitmen tersebut sebagai kemenangan bagi Washington, namun belakangan ia mempertanyakan apakah seluruh anggota berada di jalur yang tepat untuk mencapai target itu.
Akan tetapi, belanja pertahanan bukan satu-satunya sumber ketegangan. Ketegangan semakin memuncak terkait konflik AS dengan Iran; Trump mengkritik sekutu-sekutu Eropa karena menolak untuk terlibat lebih langsung dan mengeluhkan bahwa "mereka tidak hadir untuk kita."
Beberapa anggota NATO juga menolak mengizinkan Washington menggunakan pangkalan militer yang dikelola bersama untuk operasi ofensif terhadap Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut pembatasan tersebut "memalukan" dan berpendapat bahwa hal itu telah menempatkan pasukan Amerika dalam "risiko."Kendati demikian, AS tetap mempertahankan kehadiran militer yang luas di seluruh Eropa, termasuk puluhan ribu personel di Jerman. Pangkalan Udara Ramstein merupakan salah satu pusat militer terpenting Washington di luar wilayah AS sekaligus pusat logistik utama untuk berbagai operasi di Eropa, Afrika, dan Timur Tengah.
Perbedaan pendapat yang kian tajam ini pada gilirannya memicu perdebatan di Eropa mengenai pengurangan ketergantungan pada Washington dalam hal keamanan.
Para pejabat Eropa semakin sering membahas konsep "otonomi strategis" serta perlunya membangun kapasitas yang lebih besar untuk mempertahankan benua tersebut seandainya prioritas AS berbeda dari negara-negara anggota NATO lainnya.








